Sabtu, 24 Agustus 2013
Ripple Factor
Tommy Barnet
20130824-Ripple Factor2
Film-film yang beredar menggambarkan budaya yang ada. Film Forrest Gump adalah film favorit Ps Barnet, dan beliau belajar beberapa ungkapan darinya:
1. Hidup itu seperti sekotak coklat, kita tidak pernah tahu apa yang akan kita dapatkan.
2. Kebodohan adalah kebodohan yang dilakukan.
3. Jika aku sudah selesai yang harus saya katakan adalah: “itulah yang harus saya katakan”

Pendeta bekerja keras untuk membuat penutup atau kesimpulan yang bagus dari sebuah khotbah. Karena bisa jadi khotbahnya jelek, tapi jika penutupnya bagus maka jemaat akan mengingat pesan tersebut. Ungkapan ke-3 dari film Forrest Gump mempermudah pengkhotbah menutup khotbahnya.

Di bagian akhir film, Forrest berdiri di depan kuburan Jenny dan bertanya: Apakah kita hanya kebetulan hanyut terbang begitu saja seperti bulu ditiup angin, atau apakah kita mempunyai destiny? Pertanyaan ini harus dihadapi setiap orang di dunia:

Apakah keberadaan kita hanya kebetulan saja, terbang begitu saja seperti bulu ditiup angin? atau apakah kita mempunyai destiny?

Tapi tragisnya dalam kehidupan banyak orang hidup itu tidak ada artinya, tidak ada tujuan, tidak ada aturan, tidak ada yang benar atau salah karena semuanya relatif.

Orang yang muncul dari kehampaan (nothing), dan menuju kehampaan (nothing), maka semua yang ada di antaranya juga hampa (nothing)

Kata-kata yang menggambarkan budaya Amerika adalah “whatever” (terserah). Budaya Amerika sangat dipengaruhi “kebenaran talk-show”.

Josh McDowell melaporkan bahwa 80% pelajar tidak percaya kebenaran mutlak. Bagi mereka tidak ada yang benar atau salah karena masing-masing orang menjadi penentu nasibnya sendiri. Akibatnya statistik di Amerika mengatakan bahwa 60% anak biasa menyontek, dan 67% anak biasa mengutil.

Kita juga bisa hanyut mengalir seperti bulu ditiup angin jika kita mau. Tapi Firman Tuhan berkata bahwa kita tidak bisa main-main dan lari dari hukum konsekuensi-nya.

Di salah satu pantai di Alaska ada pasir hisap, tapi dari jauh seperti pasir hitam yang bagus. Pernah terjadi sepasang pengantin baru yang terperangkap dan terhisap di pasir itu bersama mobilnya.

Ini seperti orang-orang yang terperangkap dalam kecanduan. Mereka merasa bisa keluar dengan kekuatannya sendiri. Tapi ternyata mereka semakin terperangkap kuat. Hanya saat mereka mengangkat tangan kepada Tuhan, barulah Tuhan menolong mereka dengan kuasaNya.

Kita punya pilihan untuk hidup sesuai kehendak kita sendiri; atau kita memilih meletakkan hidup kita di tangan Sang Pembuat destiny, maka Dia akan membuat perbedaan dalam hidup kita.

Saat ps Barnet memutuskan meletakkan hidupnya kepada Tuhan, Tuhan membawanya beralih dari “whatever” menjadi “whereever”. Kemudian Tuhan membuat hidup ps Barnet jadi penuh petualangan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan: berkeliling dunia, membangun Dream Center, mendirikan 200 Dream Center di USA, mendirikan sekolah Alkitab, bertemu orang-orang hebat.

Tuhanlah yang melakukan semua hal besar bagi kita, saat kita sudah lelah dan tidak mau lagi untuk mengalir begitu saja seperti bulu ditiup angin, lalu menginginkan hidup kita jadi berarti dan punya tujuan.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan (Yer 29: 11)

For we are God’s masterpiece. He has created us anew in Christ Jesus, so we can do the good things He planned for us long ago. (Ef 2: 10, NLT)

Kita adalah karya agung (masterpiece) Allah. Kita dilahirkan baru di dalam Tuhan Yesus, sehingga kita mampu melakukan hal-hal baik yang sudah ditanamkan Tuhan di dalam kita. Kita bukan kebetulan atau kecelakaan dari orang tua kita, tapi sejak dunia dijadikan Tuhan punya rencana bagi kita.

Ada satu hal yang bisa kita lakukan secara lebih baik daripada seluruh orang di dunia. Jika kita tidak melakukannya, orang lain tidak akan bisa melakukan sebaik jika kita yang melakukannya.

Tuhan punya rencana bagi hidup kita, dan Dia ingin memberi kita kehidupan yang menakjubkan dan penuh petualangan.

Saat kita meletakkan hidup di tangan si Pembuat destiny, maka Allah akan memimpin kita ke dalam petualangan yang tidak pernah kita bayangkan.

Survey terhadap orang-orang berusia sekitar 95 tahun:
“Jika anda boleh ulangi hidup anda lagi, apa yang akan anda lakukan?”

Survey tersebut menghasilkan 3 respon:
1. Mereka akan lebih banyak refleksi (reflect more): lebih melambat, menikmati setiap moment lebih lagi, menikmati keindahan alam lebih lagi, menikmati menimang cucu lebih lagi.
2. Mereka akan lebih banyak mengambil resiko (risk more): melihat kehidupan sebagai sebuah petualangan, hidup di tapal batas.
3. Mereka akan menjalani hidup seolah-olah kita tetap hidup setelah kita mati.

Tidak perlu menunggu hingga usia 95 tahun baru menyadari dan melakukan 3 hal di atas, tapi kita bisa memulainya sekarang: lebih banyak mengambil resiko di saat ini, melakukan hal-hal yang berarti dan bernilai sekarang juga, menggunakan dan memanfaatkan hidup yang satu-satunya ini

Saat masuk ke dalam kolam renang, kita tidak cukup hanya mencelupkan ujung jari, tapi menceburkan seluruh tubuh kita! Akibatnya kita akan membuat gelombang (riple). Jika tidak ada tepi kolam, maka gelombang itu akan terus menjalar dalam jangka waktu lama.

Tuhan ingin kita gunakan hidup yang hanya satu kali ini, supaya berdampak hingga waktu yang lama

Peristiwa 911 di Amerika mengajarkan bahwa kehidupan itu berharga, tidak bisa diperkirakan, dan sangat singkat.

Letakkan hidup kita pada si Pembuat destiny dan membuat satu ceburan yang dahsyat, lalu gelombangnya mencapai seluruh dunia.

Saat ps Barnet menggembalakan di Devenport, Iowa, dia diundang untuk berkhotbah di sebuah gereja kecil di Neshville Tennese. Di kebaktian itu Jhony Cash (penyanyi country) dan istrinya menyerahkan hidup bagi Tuhan. Beberapa tahun kemudian mereka bekerja sama menyelenggarakan sekolah minggu terbesar di sebuah stadio baseball berkapasitas 30 ribu orang, dan lebih dari 7 ribu orang menyerahkan hidupnya kepada Tuhan Yesus.

Kemudian ps Barnet menggembalakan gereja di Pheonix, Arizona. Setiap minggu jam 4 pagi ps Barnet pergi ke gereja untuk mempersiapkan Firman. Suatu pagi ada gelandangan pemabuk yang datang dan meminta uang. Ps Barnet menawarkan sarapan terbaik bersama orang itu jika dia mau menghadiri kebaktian pagi itu. Ps Barnet membiarkan orang itu mandi di kantor, sementara ps Barnet pulang untuk mengambilkan pakaian untuk orang itu. Khotbah pagi itu khusus untuk pemabuk ini, dan saat di altar-call, orang ini serahkan hidupnya kepada Tuhan.
Mantan pemabuk ini kemudian mengajak saudaranya yang pintar ke gereja. Saudaranya itu juga bertobat, lalu masuk sekolah Alkitab dan menjadi seorang pendeta di Michigan, Detroit. Sebelum meninggal dunia, pendeta ini memenangkan jiwa presiden utama General Motor, sehingga jumlah jiwa yang bisa disentuh semakin banyak.

Mekanisme kerja yang dari Tuhan: satu jiwa menyentuh jiwa yang lain, dan jiwa itu menyentuh jiwa yang lain lagi, menyentuh jiwa yang lain lagi, bahkan lama setelah kita meninggal pun riak dan dampaknya tetap ada.

Kehidupan yang berdampak seperti ini ada resikonya. Di usia 19 tahun, saat menggembalakan gereja di Los Angels, Mathew Barnet pernah ditodong oleh seorang penderita AIDS yang sekarat. Saat Mathew bercerita tentang kehidupan setelah kematian, penodong itu akhirnya bertobat, mulai memenangkan jiwa. Di awal ps Barnet ingin memanggil Mathew pulang, tapi suara hatinya berseru supaya Mathew maju terus dan membuat perubahan.

Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. (Mrk 8: 35)

Jangan kehilangan kesempatan untuk hidup. Karena saat kita serahkan kepada Tuhan, kita justru akan selamat dan benar-benar hidup.

Pilihan di tangan kita: hidup seperti bulu ditiup angin; atau meletakkan hidup kita di tangan si Pembuat destiny, dan kita bisa membuat gelombang.

*) Altar call bagi yang merasa ada kekosongan dalam hidup, dan berusaha memenuhinya dengan hal-hal duniawi: pendidikan, pekerjaan, hubungan, uang, menjadi terkenal, hubungan demi hubungan, dll; tapi lubang itu tetap tidak terisi. Lubang itu dibuat oleh Allah, supaya Dia bisa mengisinya.

Petrus Agung
Segala sesuatu diciptakan dengan tujuan dan sifat tertentu. Contohnya tangan tidak untuk berjalan.

Manusia diciptakan sebagai mahluk yang punya destiny/ tujuan Ilahi.

Manusia yang tidak punya tujuan artinya mengingkari talenta dan tujuan hidup yang sudah Tuhan berikan. Saat kita punya target, kita bisa lebih fokus dalam mengerjakan segala sesuatu.

Maillist:
http://groups.yahoo.com/group/MinyakCadangan/

Korespondensi:
antonius_fw@yahoo.com (email, YM dan FB);
@Antonius_FW (tweeter);
pin BB 24D0C381
WhatsApp, Line, WeChat, Kakao, Viber – 085 727 868 064