Minggu, 06 Oktober 2013
Roti dan Anggur
Petrus Agung

Hubungan kita dengan Tuhan Yesus digambarkan seperti seorang pria dengan tunangannya, yang kelak akan bersatu dalam pernikahan Anak Domba. Jika kita bisa memahami gambaran ini dengan baik, maka kita akan mengerti apa yang Tuhan ingin sediakan bagi kita, dan apa yang Tuhan ingin kerjakan dalam kehidupan kita.

1. Tuhan melamar kita

Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus (2 Kor 11: 2)

Kita adalah tunangan Kristus !

Yoh 14: 1-4 – perikop ini mengacu pada proses dari pertunangan hingga menjadi pernikahan.

Tradisi pernikahan Yahudi
Si pria datang bersama orang tuanya ke rumah si wanita untuk melamar.
Kedua belah pihak orang tua kemudian mulai ber-negosiasi tentang mas-kawin.
Setelah sepakat tentang mas-kawin, si pria akan menuangkan anggur, kemudian disodorkan kepada si wanita.
Jika si wanita mau meminumnya, artinya lamaran diterima.
Setelah si wanita bersedia, dia menutup dirinya bagi pria lain dan menutup wajahnya dengan cadar.
Si pria akan kembali pulang dan bekerja. Hasil kerjanya untuk membangun sebuah rumah atau kamar di lingkungan rumah orang tuanya.
Selama membangun, secara berkala si pria mengirimkan banyak hal kepada tunangannya, supaya si wanita bisa siap dan punya gaun pengantin yang terbaik.
Ayah si pria mengawasi pekerjaan anaknya. Saat dia melihat ruangan yang dibangun anaknya sudah siap, barulah tanggal pernikahan ditetapkan.
Jam pernikahan tidak pernah jelas, karena prosesi perjalanan dari rumah pria ke rumah wanita tidak pasti lamanya.

Setelah makan Paskah, dalam perjamuan terakhir Yesus mengambil roti dan memecahkannya, dan berkata:
Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku (Luk 22:9b)

Inilah bentuk “lamaran” Tuhan kepada kita. Tuhan tidak membawa mas-kawin berupa berlian atau emas, tetapi diriNya sendiri. Saat kita makan, kita jadi tubuh Tuhan.

Setelah makan Tuhan membagikan cawan berisi anggur kepada murid-muridNya dan berkata:
Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu. (Luk 22: 20b)

Dengan menerima dan meminum anggur itu, kita menyatakan bahwa kita menerima lamaran Tuhan, dan mulai saat itu kita jadi kekasih Tuhan.

Setiap kali kita melakukan perjamuan kudus, kita mengingat akan kekasih kita: Yesus.

Dalam peristiwa di lembah raja: Melkisedek menyongsong Abraham. Abraham makan roti dan anggur sebagai tanda menerima lamaran Tuhan El-Elyon.
Yesus memperbaharui perjanjian “lembah raja” dengan tubuh dan darahNya sendiri.

Yesus pergi kepada Bapa untuk mempersiapkan rumah bagi kita semua.

Bagian Yesus adalah membangun rumah kita di Surga, bahannya dari ketaatan kita kepadaNya.

Mimpi seorang ibu yang dibawa ke Surga
Ada rumah yang besar, ada yang kecil, ada yang seperti barak. Rumah ibu ini belum selesai karena dia tidak pernah membayar angsurannya, setiap kali ditagih – dikembalikan.
Tuhan jelaskan makna mimpi kepada ibu ini: rumah di mimpi adalah rumah ibu itu kelak di Surga. Tagihan yang ditolak ibu itu: pengampunan, ketaatan, kekudusan, kesabaran, kerendahan-hati. Padahal tagihan itu untuk menyelesaikan rumah ibu itu sendiri.
Sejak itu hidup ibu ini berubah, dan dia bertekat membayar semua tagihannya.

Yesus menyediakan tempat bagi kita. Bagian kita memberikan bahan bangunannya: pengampunan, ketaatan, kekudusan, kesabaran, kerendahan-hati, kejujuran, cinta, hati, kasih, kedewasaan, korban, buah-buah Roh.

Di sisi lain selama di dunia Tuhan men-suplay hidup kita dengan semua berkat jasmani dan rohani, penyertaan Roh Kudus, Firman yang memberi makan manusia roh kita, untuk mendandani kita sehingga kita siap menjadi mempelainya.

Yesus lahir sebagai anak tukang kayu sebagai gambaran bahwa saat Dia naik ke Surga, Dia mampu membangun rumah bagi setiap kita.

Anjuran: berdoa minta supaya Tuhan tunjukkan rumah kita di Surga.

2. Tuhan mendandani kita.

Mat 6: 28-30
Pakaian = ἔνδυμα = enduma = G1746; apparel (especially the outer robe/ pakaian luar, atau jubah)
Jubah adalah simbol status. Bagi kaum miskin jubah juga berfungsi sebagai selimut.

Tuhan membandingkan jubah kita dengan kemegahan Salomo, maka yang Tuhan maksud bukan jubah biasa, tapi jubah simbol status.

Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? (Mat 6: 30)

Mendandani = ἀμφιέννυμι = amphiennumi = G294; to invest (menanam modal); to enrobe: – clothe

Tuhan mendandani kita bukan untuk memanjakan, tapi untuk ber-investasi. Tuhan investasikan:
Urapan – apakah akan memuliakan Tuhan atau membuat ego-nya berkembang ?
Berkat – apakah saat diberikan kita jadi lebih cinta Tuhan, lebih cinta jiwa-jiwa, memberkati banyak orang, atau justru menjadi orang yang vulgar dan bermewah-mewah.

Tuhan akan memastikan bahwa apapun yang Dia nantinya berikan pada kita, akan membuat kita jadi indah dan ajaib – bukan sebaliknya.

Tuhan mau investasi-Nya kembali untuk kemuliaan Tuhan, untuk orang lain diberkati, dan kita tetap tidak terikat harta.

Contoh: para gadis calon permaisuri Ahasyweros di kitab Ester. Tes terakhir adalah masuk gudang harta raja, dan boleh mengenakan apapun yang dia mau pakai, kemudian baru menghadap raja. Ester hanya mengenakan perhiasan yang dianjurkan sida-sida. Wanita-wanita lain dalam ketamakan masing-masing mengenakan perhiasan-perhiasan yang mereka suka, dan membuat jadi tampil aneh. Saat sudah jadi ratu, semua isi gudang harta Ahasyweros adalah milik Ester

Saat Tuhan mendandani kita, selalu dengarkan Roh Kudus, sehingga kita bisa bersikap sesuai selera Tuhan.

Maillist:
http://groups.yahoo.com/group/MinyakCadangan/

Portal Bahtera:
http://web.keluargarhema.com/

Korespondensi:
antonius_fw@yahoo.com (email, YM dan FB);
@Antonius_FW (tweeter);
pin BB 24D0C381
WhatsApp, Line – 085 727 868 064