Minggu, 27 Oktober 2013
Wealthy Healthy
Petrus Agung

Saat berbicara kelimpahan, ada orang yang tidak suka. Mungkin karena sangat limpah sehingga tidak perlu dengar lagi, atau selama hidupnya tidak bisa meraih kelimpahan.

Dampak kemiskinan:
Universitas Havard, Princeton, dan Worwick melakukan riset terhadap orang-orang yang penuh kekuatiran, terutama karena tagihan yang harus dibayar. Kekuatiran itu ternyata menyita banyak porsi bagian pikiran kita, bahkan orang bisa kehilangan 13 poin dari IQ. Artinya kekuatiran membuat kemampuan otak kita menurun/ drop.
Dampak kerusakan yang dihasilkan kemiskinan: anak yang hidup dalam keadaan kekurangan di usia 9-10 tahun, ada bagian otaknya yang terkena serangan, yaitu otak yang bertugas menyelesaikan masalah (problem solving).
Kamboja setelah perang saudara dilanda kemiskinan. Ada seorang misionaris Korea melayani di Pnom Penh. Suatu pagi dia melihat seorang ibu dan anak perempuan berusia 12 tahun tidur di emperan toko, lalu datang seorang tukang becak, membayar sejumlah Rp 3000,- kepada si ibu, lalu memperkosa anak kecil itu. Misionaris ini tidak punya solusi. Peristiwa ini meremukkan hatinya dan kemudian memutuskan balik ke Korea.

Di sisi lain jika kita fokus hanya mencari kekayaan, maka hidup kita juga akan sama rusaknya.

Kita membutuhkan pengertian dari Tuhan, sehingga kita diberkati tapi sehat secara rohani.

3 Yoh 1: 1-8
Surat 3 Yohanes adalah surat ucapan terimakasih kepada Gayus, anak rohani rasul Yohanes. Saat ada rombongan hamba Tuhan mengunjungi kotanya, Gayus menerima dan men-support hamba-hamba Tuhan ini. Saat pulang, rombongan hamba-hamba Tuhan ini bersaksi tentang dukungan dan pertolongan Gayus, dan itu menggerakkan rasul Yohanes untuk menulis surat ini.

Beloved, I wish above all things that thou mayest prosper and be in health, even as thy soul prospereth. (3 Yoh 1:2, KJV)

Salah satu alasan Yohanes menggabungkan 2 kata ini: kelimpahan dan sehat, karena banyak orang yang menikmati kelimpahan, tapi tidak sehat. Tuhan ingin kita menikmati berkatNya, tapi menikmatinya dengan cara yang sehat. Tuhan tidak mau berkatNya menghancurkan kita.

Tuhan mau kita wealthy dan healthy di saat yang sama

Cara menikmati berkat dengan sehat:

1. Berkat adalah bekal kita untuk menuju destiny kita.
Kata limpah/ prosper artinya sebuah pertolongan untuk perjalanan kita (to help on the road).

Kekayaan yang Tuhan berikan kepada kita tergantung seberapa jauh perjalanan kita, dan seberapa besar kebutuhan kita untuk menempuh perjalanan bersama Tuhan itu.

Setiap kita punya tujuan/ destinasi. Orang yang bergerak tanpa visi dan tujuan Tuhan akan binasa.

Where there is no vision, the people perish (Ams 29: 18, KJV)

Setiap orang percaya seharusnya bertanya kepada Tuhan : apa tujuan hidup kita ke depan. Saat kita dapatkan dan melangkah untuk menuju destiny, saat itulah Tuhan menolong dan memberkati kita.

Di tahun 1998 jemaat JKI sekitar 700 orang, gereja sudah 7 tahun. Selama 7 tahun gereja dibiarkan berkembang dengan sendirinya. Suatu hari pdt Kong Hee dari Singapura datang. Dia bertanya jumlah jemaat Jki, dan berapa jumlah jemaat yang p Agung inginkan di tahun berikutnya. P Agung seperti dipaksa untuk menjawab, dan dijawab 2000. Kemudian ps Kong Hee mengajak p Agung bersepakat dengan p Agung: 2000 jiwa sebelum th 2000. Natal 1999 di HS yunior jumlah jemaat hadir 2000 lebih.

Semua yang Tuhan beri untuk JKI adalah bekal, seperti orang yang akan lakukan perjalanan beberapa waktu lamanya ke tempat yang jauh. Jika kita mau ambil dan jalani jatah yang besar, maka Bapa yang baik akan membekali kita.

Contoh: antara mendaki gn Everest dibanding gn Brintik. Biaya dan persiapannya beda.

Untuk menggapai destiny yang besar, kita tetap harus memulai dari level yang paling bawah, dan terbukti bisa dipercaya. Tuhan tidak keberatan memberkati anak-anakNya. Tapi itu adalah bekal/ uang saku bagi anak-anakNya. Arah tujuan kita menentukan bekal yang akan Tuhan sediakan.

Saat red carpet dicanangkan, dananya belum ada. Begitu jemaat melangkah, maka ada terobosan.

2. Aniaya mendorong kita maju menuju destiny kita.

Jawab Yesus: ” Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki- laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak- anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki- laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. (Mrk 10: 29-30)

Salah satu pengertian kata “aniaya” adalah: mendorong maju (push forward).
“Aniaya” yang menyertai berkat bertujuan supaya kita bisa berlari cepat menuju garis akhir.

Contoh “aniaya” :
Peraturan orang tua: anak tidur jam 8 malam supaya besok bisa bangun pagi. Tapi karena banyak tugas, baru tidur jam 9. Esoknya si anak tetap bangun pagi dengan sehat. Maka orang tua akan mentoleransi pelanggaran itu, karena tujuannya tercapai.

Aniaya adalah ketika kita didorong situasi sehingga berlari cepat dan mencapai garis akhir kita.
Aniaya tidak diperlukan jika saat diberkati, kita bisa tetap lari dengan cepat, walau tanpa didorong.

Contoh lain: Dalam pacuan kuda, joki mencambuk kuda supaya bisa berlari dengan cepat.

Nikmati berkat Tuhan, tapi tetap berlari menuju tujuan/ destiny kita. Aniaya hanya terjadi adalah saat kita terhenti.

3. Semua yang kita miliki harus ber-echo
Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. (Mat 25: 29)

Kata “punya” berasal dari kata Yunani echo/ gema

Arti “mempunyai” di mata Tuhan bukanlah “kita memiliki bagi diri kita sendiri”,
tetapi “milik kita yang ber-echo/ berdampak/ bergema dan punya arti bagi orang lain”.

Orang muda yang kaya datang kepada Yesus. Yesus bertanya tentang 6 perintah Allah yang berhubungan dengan manusia. Orang muda ini sudah mengerjakan semua sejak masa mudanya. Yesus berkata kekurangannya: menjual seluruh hartanya, lalu memberikannya kepada orang miskin. Ini karena semua hartanya tidak pernah menyentuh dan memberkati sesamanya.

Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang (Why 3: 17b)

Jemaat Laodekia disebut Tuhan miskin dst karena apapun yang mereka miliki tidak ada echo-nya.

Kekayaan dimulai dari jiwa dan mentalitas kita. Jika yang kita punyai bisa ber-echo dan memberkati orang lain, maka jiwa kita kaya.

Dalam kisah Zakeus, Yesus berkata bahwa keselamatan ada di rumah Zakeus. Ini karena Zakeus berubah: dari pemeras jadi orang yang memberkati orang lain.

4. Pencobaan yang kita alami bertujuan mengukur kapasitas kita
Yak 1: 1-4
that ye may be perfect and entire, wanting nothing (Yak 1: 4b, KJV)

Ujungnya: hidup dalam kelimpahan dan tidak kekurangan apapun yang baik.

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan (Yak 1: 2)

Awalnya: bersikap bahagia saat menghadapi berbagai pencobaan
Kata “pencobaan” artinya tes yang bertujuan mengukur daya tampung seseorang (kemampuan untuk menerima secara kuantitas)

Holy Stadium mempunyai 299 tiang pancang, masing-masing masuk 31-32 m ke dalam tanah. Pemasangan tiang pancang suaranya saat berisik. Setelah selesai, ada uji kekuatan (loading test) untuk setiap titik tiang pancang. Caranya dengan memberikan beban yang berat di atas tiang pancang. Tujuan test ini untuk mengukur kekuatan tiang pancang untuk mengangkat beban. Setelah lulus loading test, barulah pembangunan dilanjutkan.

Tuhan bisa memberkati dengan mudah. Tapi apakah berkat itu membuat kita ternggelam atau tidak?

Saat mengalami ujian apapun, Alkitab berkata bahwa itu kebahagiaan, ucapkan syukur, dan biarkan Tuhan mengukur seberapa kita bisa dipercayai.

Maillist:
http://groups.yahoo.com/group/MinyakCadangan/

Portal Bahtera:
http://web.keluargarhema.com/

Korespondensi:
antonius_fw@yahoo.com (email, YM dan FB);
@Antonius_FW (tweeter);
pin BB 24D0C381
WhatsApp – 085 727 868 064