Minggu, 12 Januari 2014
Thermostat
Petrus Agung

Mat 25: 14-15, 24-30
Dalam kaitan dengan hal-hal yang harus kita siapkan menjelang kedatangan Tuhan yang kedua, kali ini fokusnya pada hamba yang menerima 1 talenta. Karena 2 hamba yang lain sudah baik dan setia. Kita belajar dari kesalahan hamba ini, sehingga kita tidak mengulang kesalahan yang sama.

1. Kerusakan di dalam diri kita akan membatasi kesanggupan kita
Kesanggupan dari kata dunamis (G1411) yang artinya kuasa untuk menciptakan mujizat.
Setiap orang punya dunamis yang berbeda-beda, baik secara spiritual maupun kesanggupan bekerja.

Tuhan berikan kepercayaan yang berbeda karena Tuhan mengukur kedalaman kita

Ukuran Tuhan tepat karena di akhir kisah terbukti bahwa hamba ke-1 dan ke-2 menghasilkan, hamba ke-3 tidak. Bahkan jawabannya berisi kepahitan, kemarahan, dan kekecewaan. Ternyata selama itu ada sesuatu yang rusak di dalamnya, sehingga persepsinya akan Tuhan tidak benar.

Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. (Mat 25: 24b)

Padahal di akhir kisah, hamba yang dari talenta 5 menjadi 10, talentanya tidak diambil balik oleh tuannya.

Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. (Mat 25: 28)

Banyak orang punya persepsi yang salah tentang Tuhan. Setiap persepsi yang salah membuat kerusakan di jiwa. Kerusakan ini menurunkan kemampuan kita.

Ilustrasi:
Batery HP yang baru bisa bertahan 10 jam. Setelah digunakan sekian lama, ternyata kapasitas menurun dan harus di charge setiap 2 jam. Dari luar batery terlindung dan tidak terlihat ada kerusakan. Tapi kerusakan ada di dalam dan tidak terlihat.

Hamba yang terima 1 talenta mengalami kerusakan di jiwanya, sehingga termostat di jiwanya rusak dan level kesanggupannya terbatas di level tertentu, dan tidak bisa lagi ditambahkan apapun.

Kesaksian:
Seseorang berguru ilmu hitam, ilmunya semakin kuat jika bisa merusak perempuan. Perempuan itu jadi linglung, mengalami mimpi buruk, dan ada kerusakan di rohnya. Suatu kali dia coba ilmunya kepada seorang anak hamba Tuhan, tapi tidak berhasil, bahkan satu kali berjumpa Tuhan Yesus sendiri. Dalam sebuah doa semalam orang ini datang, dan membuat suasana penyembahan berat. Saat didoakan, terjadi manifestasi kuasa jahat, bahkan terjadi pelepasan, dan orang ini akhirnya percaya Tuhan Yesus.
Beberapa waktu kemudian, dalam sebuah retret di Salatiga, guru orang tersebut mengirim 2 murid seniornya untuk menjemput balik orang ini. Penyembahan berat. Saat 2 orang itu didoakan, terjadi manifestasi dan pelepasan. Paginya 2 orang itu melarikan diri dari tempat retret. Guru dari 2 orang itu mendapati bahwa bagian dalam 2 murid ini rusak dan tidak bisa diperbaiki, lalu diusir. Ujungnya yang satu gila, dan yang lain mati.

Periksa apakah ada yang tidak tepat di hidup kita, sehingga walau sudah berusaha lakukan apapun tetap gagal.

Semua hal yang merusak jiwa kita, membuat termostat di dalam kita rusak.

Tuhan sanggup menyembuhkan semua kerusakan di dalam kita, yang tidak terlihat oleh orang lain.

Orang yang kepahitan tidak mendapat bagian dalam kerajaan surga.

Saat kerusakan di dalam kita dibiarkan, maka kita tidak bisa berbuah maksimal. Sehingga saat Tuhan datang, kita seperti berada dalam kondisi yang compang-camping.

Tuhan sangat mengasihi kita, dan memberikan berbagai hal sesuai kesanggupan kita. Tuhan juga mau bawa kita ke next level, tapi kita harus ijinkan Tuhan membenahi kerusakan-kerusakan di dalam kita. Di roh kita harus sadar bahwa kita sudah lahir baru.

Termostat di dalam kita harus diperbaiki. Apapun yang kita deklarasikan, nubuatkan, tarikan, nyanyikan, itu semua akan terjadi, karena Tuhan memberi jauh lebih banyak dari yang kita pikirkan.

Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, (Ef 3: 20)

Ada hal-hal dari masa lalu kita yang harus kita perangi. Salah satunya: perasaan minder. Survey membuktikan bahwa orang yang ekonominya baik akan bisa promo produk dengan berani. Sebaliknya yang ekonomi kurang, mereka menawarkan barang dengan malu-malu. Karena rasa minder inilah kita tidak berkembang, karena cetakan di jiwa/ termostat kita rusak.

Kerusakan di dalam diri kita ujungnya menciptakan kesombongan, karena kita akan mencoba menutupinya dengan cara lain.

Tuhan bisa bawa kita ke tempat-tempat yang tidak pernah kita pikirkan. Tuhan bisa angkat dan berkati hidup kita, tapi sebelumnya Tuhan mau perbaiki kerusakan-kerusakan di dalam kita.

2. Kerusakan di dalam kita membawa kesimpulan yang salah
Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. (Mat 25: 24b)

Kata “aku tahu” adalah idiom Yahudi dalam konteks hubungan suami-istri.
Artinya hamba ini “merasa” tahu karena merasa memiliki kontak dan kedekatan sangat erat dengan majikannya.

Jika dalam kita thermostat-nya sudah rusak, kesimpulan kita bisa rusak.

Sesuatu yang rusak di dalam kita membawa kesimpulan yang salah. Semakin dekat dengan seseorang, kita bisa semakin salah menilai orang tersebut. Contohnya Yudas Iskariot dekat dengan Yesus, tapi menjual Yesus. Ini karena ada yang rusak di dalam.

Seringkali kita punya niatan yang baik, tapi jika ada error di dalam maka kedekatan tidak selalu membuat sesuatu jadi lebih baik.

Semua karunia rohani selalu diwarnai jiwa orang yang memilikinya. Jika di jiwa kita ada kerusakan, maka kita bisa gunakan karunia itu untuk hal yang merusak.

Contoh: seseorang punya karunia pengelihatan. Tapi karena jiwanya ada error, saat melihat orang yang hidupnya tidak benar, apa yang dilihat itu digunakan untuk mengancam akan “membongkar”

Saat mendengar berita apapun, jangan telan semuanya sekaligus, karena selalu ada kemungkinan pengaruh dari jiwa si pembawa pesan.

3. Kita disebut jahat jika apapun yang jadi milik kita tidak ber-echo bagi orang lain
Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas (Mat 25: 26a)

Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya(Mat 25: 29)

Kata “mempunyai” dari kata echo. Semua yang kita punya harus ber-echo. Jika kita memiliki sesuatu, dan itu bergema ke banyak orang lain, maka artinya kita benar-benar memilikinya, dan kita adalah orang yang baik.

Yang disebut jahat adalah jika miliki kita disimpan bagi diri kita sendiri dan tidak ada echo-nya.

Dalam kisah “Orang kaya dan Lazarus yang miskin”, nasib mereka berbeda bukan karena kekayaan, tapi karena kekayaan si kaya tidak ber-echo dan hanya disimpan bagi dirinya sendiri.

Miliki jiwa yang sehat, minta Tuhan sembuhkan kita!

Klip rapture
Altar call: bagi mereka yang merasa ada kerusakan di dalamnya, Tuhan mau pulihkan itu.

Tahun ini holywood banyak buat film berdasar akhir jaman, beberapa bertema tentang Yesus, Musa, Nuh. Entah kisahnya sesuai Alkitab atau dipelintir, ini adalah cara Tuhan mengingatkan bahwa kedatangan Tuhan sudah tidak lama lagi.

Portal Bahtera: http://web.keluargarhema.com/

Korespondensi:
antonius_fw@yahoo.com (email, YM dan FB);
@Antonius_FW (tweeter);
pin BB 24D0C381
WhatsApp – 085 727 868 064