Kamis, 13 Maret 2014

Sesi 1: Perjanjian Garam (salt covenant)

Seminar “Wadah yang Besar” Maret 2014

Petrus Agung

Hukum penyebutan pertama (the law of 1st mention) : Apapun yang disebutkan untuk pertama kalinya di Alkitab adalah pola yang paling orisinil dari sebuah pengertian.


Contoh: penyembahan (worship)

Asosiasi umum: ibadah, berbahasa Roh, menyembah dengan lagu-lagu yang lebih lambat, mengangkat tangan, berlutut, dll.

Di dalam Alkitab kata “penyembahan” ditulis pertama kali saat Tuhan perintahkan Abraham untuk mengorbankan anak yang dikasihinya. Saat akan naik ke gunung Moria, Abraham berkata kepada bujangnya: “kalian tinggal di sini, kami akan menyembah”

and I and the lad will go yonder and worship, and come again to you (Kej 22: 5b, NKJV)

Pengertian orisinil dari kata penyembahan (worship) mengandung sebuah pengorbanan yang berat. Yang bisa Abraham lakukan mungkin hanya meneteskan air mata, tapi dia tetap melakukan yang Tuhan perintahkan.


Kitab Kejadian mungkin bukan kitab yang paling tua, tapi menceritakan awal dari segala sesuatunya


Setiap kali manusia melakukan pelanggaran dan dosa yang berat, Tuhan selalu menutupi pelanggaran itu dengan sesuatu. Contoh:

  1. Adam dan Hawa harus dihukum karena dosa. Tapi Tuhan mengorbankan anak domba. Keturunan manusia akan meremukkan kepala ular, dan ini digenapi oleh Yesus Kristus.

  2. Kisah Kain membunuh Habel. Dosa pembunuhan itu ditutup Tuhan dengan perjanjian garam. Hingga saat ini, ke-tidak-rukun-an antar saudara sering terjadi.

  3. Saat seluruh dunia berdosa, Tuhan perintahkan Nuh untuk membangun Bahtera. Setelah air bah reda, Tuhan berikan perjanjian pelangi.

Seminar hari ini seminar fokus kepada perjanjian yang ke-2: perjanjian garam


5 hal tentang perjanjian garam

1. Pemurnian dan unity

For every one shall be salted with fire, and every sacrifice shall be salted with salt. Salt is good, but if the salt has lost his saltness, with what will ye season it? Have salt in yourselves, and have peace one with another. ” (Mrk 9: 49-50, KJV)


Api bicara tentang pemurnian. Setiap orang harus digarami dengan api, dan setiap korban harus ditaburi dengan garam. Miliki garam dalam diri kita sendiri, dan berdamai satu-sama lain.

Salah satu problem manusia sepanjang masa: melempar tanggung jawab kepada orang lain.

Contoh:

  • Manusia pertama jatuh dalam dosa. Bukannya berlutut dan meminta ampun, Adam justru melempar tanggung-jawab kepada Hawa. Berdasar kata-kata Adam, yang paling bersalah adalah Hawa, tapi kemudian juga Tuhan.

  • Persembahan Kain dan Habel. Yang berkenan kepada Tuhan: “Habel dan persembahannya” , bukan hanya Habel. Jika kita berkenan di hadapan Tuhan, maka kita akan bisa persembahkan persembahan yang berkenan.


Di masa kini banyak terjadi: saat melihat orang yang lain lebih diberkati, atau lebih berkenan, maka yang lain bernafsu untuk menciderai dan menghabisi.

Dalam pekerjaan Tuhan diperlukan unity dalam gerejaNya

Unity bukan sekedar berkumpul dan bersalaman, tapi dari dalam hati. Bukan juga sama rata. Perlu kerendahan hati, tahu diri, sadar posisi kita di hadapan Tuhan.

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh 13: 34-35)


Jika kita saling mengasihi, maka dunia tahu bahwa kita murid-murid Yesus. Kita sebenarnya dituntut untuk me-representasi-kan Tuhan.


Banyak yang berstatus hamba Tuhan, membawa nama Tuhan, tetapi kelakuannya buruk.
Hanya orang yang pernah melewati “digarami dengan api”, hatinya akan berubah

Orang yang belum benar-benar “digarami dengan api”, masih punya sifat sombong dan angkuh. Untuk melewati “digarami dengan api”, kita harus korbankan harga diri kita. Saat ujian ini selesai, akan muncul orang yang berbeda.


Tuhan melihat hati! Sikap kita menentukan seberapa kedewasaan kita di depan Tuhan. Kedewasaan itu menentukan seberapa kita jadi anak yang dewasa/ akil baliq di hadapan Tuhan. Dan itu menentukan seberapa besar kepercayaan Tuhan kepada kita.


Setiap orang yang rela melewati api dalam hidupnya, di dalamnya akan berbeda. Bahkan saat melihat harta, hati kita akan ber-respon beda, dan tidak ada ketamakan. Inilah yang Tuhan inginkan!


Apapun yang kita korbankan: pikiran, tenaga, uang, talenta, semua itu harus digarami!


Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Rm 12: 1)


Sebenarnya jika Tuhan suka dengan respon kita, semua masalah akan selesai. Masalahnya sering kali sikap kita seperti mencari gara-gara di hadapan Tuhan.


Setiap kita harus digarami, dan jadi garam bagi dunia yang sebenarnya


Kita hanya bisa mendidik sikap hati dengan menjaga sikap hati kita saat melewati api pemurnian. Jika setiap kali respon kita benar, maka Tuhan suka, dan akan memberkati dengan mudah. Tapi seringkali kita justru menjengkelkan hati Tuhan:


Sikap hati yang salah: setiap kali kita berdosa, kita bertobat, maka Tuhan tetap mengampuni. Tapi saat ada seseorang berdosa 1x pada kita, kita menghakimi dengan luar biasa!


Pernyataan: “semua sudah saya lakukan” artinya orang tersebut benar dan Tuhan yang salah. Sebenarnya perkataan itu artinya kita berjalan dengan hukum Taurat: harus ini dan itu.


Hobi lain yang Tuhan tidak suka: Menyimpan kesalahan orang lain.

Semua hal tersebut adalah masalah, dan membuat Tuhan tidak bisa menurunkan berkatNya.

Contoh ketidak-rukunan sesama saudara:

  • Seharusnya yang Kain lakukan: bertanya mengapa Habel bisa berkenan kepada Tuhan.

  • Esau-Yakub – ribut sejak di perut ibunya: berebut hak kesulungan.

  • Yusuf hampir dibunuh saudara-saudaranya.

  • Saul-Daud. Saul iri karena nyanyian wanita-wanita yang menyanjung Daud.


Masalah antar gereja dasarnya hanya iri, dan ini adalah persaingan yang konyol.


Di surga tidak ada duka dan air mata, semua damai, tidak ada orang yang marah-marah. Tuhan tidak akan membawa anak-anakNya yang punya sifat-sifat buruk: iri, marah, bertikai.


Kita tidak pernah dipanggil untuk ribut dengan siapapun dalam tubuh Tuhan. Tidak perlu menanggapi kritikan, atau menanggapi gosip dari orang lain.


Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (Ef 4: 28-32 )

Setiap kali kita mendapatkan apapun yang tidak baik: respon kita seharusnya berterima-kasih kepada Tuhan, dan minta Roh Kudus untuk mendidik kita, sehingga reaksi kita tidak mendukakan Roh Kudus. Karena jika Roh Kudus terus didukakan, Dia akan undur dari kita.


Kej 1: 1 – salah satu pengertian kata “melayang-layang” adalah seperti induk ayam mengerami telurnya. Kombinasi Roh Kudus dan Firman menjadikan semua Firman jadi daging, impian jadi kenyataan. Seperti telur ayam yang tidak akan menetas jika tidak di-erami, maka kita perlu Roh Kudus untuk “menetaskan” semua Firman jadi daging.

Roh Kudus suka jika kita tahu cara meng-handle saudara kita, bahkan yang paling nakal dan liar.


Roh Kudus adalah pribadi yang sangat lembut, tidak bisa dibawa dalam suasana perang, peritikaian, pertengkaran, konfrontasi, menjatuhkan, dll. Jika kita lakukan itu, maka Roh Kudus akan berduka dan undur. Saat Roh Kudus mundur, maka tidak akan ada Firman Tuhan yang “menetas”, bahkan sekalipun kita deklarasi hingga mulut berbusa.


Respon yang Roh Kudus mau saat kita menghadapi masalah: diam, ampuni, kebaskan, bertobat, akui, merendah, punya cool spirit. Jika punya semua ini kita kerjakan, maka Roh Kudus seperti melingkupi, membungkus dan mengerami kita.

Ini sebab mengapa ada orang-orang yang doanya dikabulkan dengan cepat dan mudah oleh Tuhan.


Mereka yang ingin percepatan:

  • Jangan mendukakan Roh Kudus

  • Jangan lukai saudara seiman dan anak-anak Tuhan yang lain.

  • Hidup berdamai satu dengan yang lain.

  • Jika ada anak Tuhan yang jatuh: kebaskan, doakan, angkat di depan Tuhan, jangan tercemar.

Maka kita akan melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan.

2. Kekuatan (strength) dan Kualitas (quality)


You are the salt of the earth, but if salt has lost its taste ( its strength, its quality ), how can its saltness be restored? It is not good for anything any longer but to be thrown out and trodden underfoot by men. (Mat 5: 13, AMP)


Yesus berkata bahwa kita adalah garam dunia. Kata “rasa” berarti kekuatan (strength) dan kualitas (quality) dari suatu benda.

Maka jika kita adalah garam dunia, artinya kita punya kekuatan (strength) dan kualitas (quality)

Fungsi garam awalnya: perasa, membuat awet bahan. Selain itu sebuah artikel menyebutkan bahwa garam mempunyai lebih dari 140 ribu fungsi.

Saat ada orang yang tidak melakukan apapun bagi Tuhan, kerajaanNya, dan sekitarnya: seperti garam yang kehilangan kekuatan dan kualitasnya.


Banyak orang tersinggung dan merasa harga dirinya diinjak-injak: ini artinya orang itu garam yang kehilangan/ tidak muncul kekuatan dan kualitasnya.


Kita bisa berfungsi sangat banyak dalam kerajaan Tuhan.


Salah satu fungsi garam:

Orang-orang miskin di timur tengah mengumpulkan kotoran sapi untuk dinding rumah. Kotoran itu dicampur garam sambil dibakar. Ini menyebabkan bau dan bakterinya hilang. Tembok ini bisa menahan cuaca panas dan dingin gurun, sehingga yang di dalam rumah bisa nyaman.


Jangan mau ditipu perkataan setan: “kita tidak bisa apa-apa”.

Jika mau, kita bisa berfungsi sangat banyak. Maka minta kepada Tuhan:

  • Ajari bersikap benar, jadikan garam dunia

  • Beri minimal satu pelayanan dalam hidupku


Semua yang berfungsi membuat Tuhan bahagia. Jika kita hanya diam saja dan sekedar menyerap, maka kita belum berfungsi.


3. Garam Perjanjian

Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam. (Im 2: 13)

Di Perjanjian Lama semua kurban kepada Tuhan harus dibubuhi garam, dan merupakan garam perjanjian dengan Tuhan.

Segala persembahan khusus, yakni persembahan kudus yang dipersembahkan orang Israel kepada TUHAN, Aku berikan kepadamu dan kepada anak-anakmu laki-laki dan perempuan bersama-sama dengan engkau; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya; itulah suatu perjanjian garam untuk selama-lamanya di hadapan TUHAN bagimu serta bagi keturunanmu.” (Bil 18: 19)

Ayat ini untuk imam Harun dan keluarganya. Kita adalah imamat yang rajani, maka ayat ini berlaku juga bagi kita.

TUHAN berfirman kepada Harun: “Di negeri mereka engkau tidak akan mendapat milik pusaka dan tidak akan beroleh bagian di tengah-tengah mereka; Akulah bagianmu dan milik pusakamu di tengah-tengah orang Israel. (Bil 18: 20)

Ada bagian yang kita persembahkan kepada Tuhan. Ada bagian Tuhan yang diberikan kepada kita yang merupakan imam-imam dari kerajaan Tuhan, yaitu perjanjian garam.


Berkat dari Tuhan untuk kita bukanlah milik kita, tapi Tuhan beri bagianNya bagi kita !


Kebanyakan orang menganggap dirinya hidup dari pekerjaan, bisnis, dan karir. Ini anggapan yang salah, karena sebenarnya kita hidup dari Tuhan!


Jika kita sadar bahwa hidup kita bukan dari kantor-pekerjaan-dagang, tapi dari Tuhan, maka kita akan bisa lihat bahwa pemasukan kita per-bulan akan melebihi dari gaji/ penghasilan kita.


Kesaksian: teman p Yusak di Surabaya adalah penginjil desa. Dia memiliki pandangan yang salah: hidup dari kolekte gereja desa. P Yusak ajari: seharusnya dia hidup dari berkat Tuhan. Sejak itu dia melayani dan memberkati gereja-gereja desa, tapi juga bisa menikmati hidup di kota Surabaya. Bahkan bisa berlibur ke luar negeri.


Bagian Harun dan kita sebagai imamat yang rajani bukanlah tanah, tapi Tuhan sendiri!
Kita harus tetap bekerja, tapi kita harus ubah pola pikir kita: hidup kita dari anugerah Tuhan!


Now because we eat the salt of the king’s palace and it is not proper for us to witness the king’s discredit, therefore we send to inform the king, (Ezr 4: 14, AMP)


Orang-orang yang melaporkan Ezra berkata bahwa mereka “makan garam dari istana raja”. Artinya mendapat makan dari kerajaan, walaupun mereka tinggal jauh dari kerajaan.


Gaji bahasa Inggrisnya salary. Salary berasal dari kata latin salarium, artinya uang garam. Ini karena di jaman romawi prajurit digaji dengan garam, dan garam di masa itu lebih bernilai dari emas.


Stop berfikir bahwa pemasukan kita dari manusia, dari kerja-bisnis. Kita bekerja sebagai tanggung-jawab kita, supaya kita terlatih dan jadi berkat bagi orang lain.

Kita terima gaji dari Tuhan ! Kita makan garam dari istana RAJA


4. Garam adalah simbol kelahiran baru (2Raj 2: 19-21)

He said, Bring me a new bowl and put salt [ the symbol of God’s purifying power ] in it. And they brought it to him. (2 raj 2: 20)


Garam adalah simbol kelahiran baru. Semua yang menyebabkan mati, gugur, tidak berkembang, mandul: harus dihentikan!

Saat kita berfungsi sebagai garam dunia, maka apapun yang kita sentuh akan jadi.


5. Perjanjian garam memberi otoritas penuh kepada Tuhan untuk menjadi pembela kita.

2Taw 13: 1- 20

Ini rekor korban perang terbanyak dalam sejarah: mati 1/2 juta orang dalam 1 hari. Hal ini karena ucapan Abia: ada perjanjian garam antara Tuhan dengan Daud turun-temurun.


Tidakkah kamu tahu, bahwa TUHAN Allah Israel telah memberikan kuasa kerajaan atas Israel kepada Daud dan anak-anaknya untuk selama-lamanya dengan suatu perjanjian garam? (2Taw 13: 5)

Perjanjian garam memberi otoritas penuh kepada Tuhan untuk menjadi pembela kita


Perjamuan Paskah di awalnya bukan hanya roti dan anggur, tapi ada juga sawi pahit dan garam, Garam tersebut ada sebagai tanda perjanjian garam.

Setiap kali Yesus memecah roti, Yesus menyatakan diriNya sebagai tuan rumah. Lalu Yesus perintahkan untuk melakukan perjamuan kudus sebagai peringatan akan Dia. Maka setiap kali kita melakukan perjamuan kudus, sebenarnya kita berkata bahwa kita masuk di dalam rumah Tuhan, dan di dalam Tuhan. Di timur tengah, jika menerima tamu, tuan rumah menjamin tamunya dengan apapun.

Contoh: Tuhan kirim malaikat ke Sodom untuk menolong Lot. Saat pria-pria kota Sodom memaksa meminta tamu lot untuk keluar, Lot dalam kondisi terdesak menawarkan 2 anak gadisnya. Itu tanggung-jawab tuan rumah.


Tuhan beri kita perjanjian baru dan perjanjian garam. Perjanjian garam tidak pernah dihapuskan Tuhan, perjanjian baru melengkapi semuanya.


Saat kita berada dalam masalah, lalu kita lari ke Tuhan dan minta tolong. Maka Tuhan akan berdiri dan jadi pembela kita.


Dalam kitab wahyu Tuhan mengetok pintu. Jika kita mempersilahkan Tuhan masuk, Tuhan yang akan jadi tuan rumah kita. Saat setan tuntut kita, Yesus-lah yang keluar menemui setan, membela dan menjamin kita.


Selama kita tinggal di dalam Tuhan, kita akan terproteksi.


Gambaran proteksi Tuhan:

Saat bangkit dari antara orang mati, Yesus mengunjungi murid-muridNya yang ketakutan. Yesus makan ikan goreng lalu pergi. Saat Yesus melewati tembok, ikan gorengnya tetap ikut di dalam perut Yesus dan tidak jatuh. Bahkan ikan goreng itu ikut Yesus naik ke Surga.

Kita di dalam Yesus, maka tidak ada tembok apapun yang bisa menghalangi kita

Portal Bahtera: http://web.keluargarhema.com/

Korespondensi:

antoniusfw@facebook.com (FB);

antonius_fw@yahoo.com (YM);

antoniusfw1@gmail.com (email, YM dan FB);

@Antonius_FW (tweeter);

pin BB 2A67038C

WhatsApp , WeChat, Line, Telegram – 085 727 868 064