Minggu, 25 Oktober 2015
Above The Crowd
Petrus Agung

Tidak ada apapun yang kebetulan di hidup kita. Tuhan mau bawa kita naik ke next level. Tuhan juga mau mengubah hidup anak-anakNya dari konsumen menjadi prosdusen.

Jawab Yesus kepadanya: ” Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama- lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus- menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. ” (Yoh 4: 13-14)

Saat seseorang haus dan minum, dia adalah konsumen. Mengambil apa yang dia kurang/ tidak punya. Tuhan berkata bahwa sesuatu yang dikonsumsi itu kelak akan jadi produsen.

Kesaksian
Hampir dalam setiap event JKI selalu ada hadiah motor, dan selalu jatuh pada orang yang pas.
Ini ternyata tidak kebetulan.
Di masa muda p Agung dapat panggilan jadi hamba Tuhan, tapi ditentang ayahnya karena di masa itu pendeta melarat. Saat membaca buku Kenneth Hagin, p Agung sampai pada kesimpulan: jika tahu yang namanya “iman”, maka hidup kita tidak akan kekurangan. Larangan orang-tuanya membuat p Agung berusaha mencari supaya tetap bisa melayani Tuhan, tapi tidak melarat.
P Agung lalu bertanya pada banyak pendeta, dan selalu jawabannya Ibr 11: 1. Jawaban tersebut tidak memuaskan p Agung karena hanya merupakan definisi. P Agung akhirnya bertanya pada seorang hamba Tuhan di Ungaran: minta diajari tentang iman, sehingga punya sepeda motor sendiri. Pendeta ini menjawab dengan rendah hati : saya sendiri belum punya motor, jadi tidak bisa ajari p Agung. Sejak itu p Agung berhenti mencari jawaban melalui pendeta.
P Agung akhirnya memilih jalan ber-iman, diajari Tuhan sendiri langkah demi langkah. Setelah tahu kunci iman, p Agung berubah dari konsumen: butuh sepeda motor, sekarang jadi produsen: memberikan sepeda motor kepada hamba-hamba Tuhan dan anak-anak Tuhan lain.

Di dalam Tuhan Yesus kita harusnya bukan hanya konsumen, tapi produsen. Bukan hanya orang yang meminta, tapi memberkati dan memberi

Above the crowd – di atas rata-rata orang kebanyakan

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. (Ibr 11: 1-2)

Iman adalah jaminan dan bukti. Yang terjadi jika seseorang ber-iman:

The act of faith is what distinguished our ancestors, set them above the crowd. (Ibr 11: 2)

Yang membuat leluhur Israel dibedakan adalah iman mereka. Iman menempatkan mereka di atas rata-rata orang banyak.
Tuhan mau jadikan kita di atas rata-rata, bukan sekedar jadi konsumen seperti kebanyakan orang, tapi jadi produsen yang memberkati banyak orang lain.

Orang yang mengerti iman, bertindak dengan iman, akan ada di atas rata-rata orang kebanyakan

Tuhan berkata bahwa kita adalah terang dunia, seperti pelita yang diletakkan di atas untuk memberi penerangan lebih luas.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu (Mat 5: 14-15)

Alkitab tidak banyak cerita tentang orang yang rata-rata, tapi bercerita tentang orang-orang yang di atas kebanyakan.

Karena iman kita mengerti (Ibr 11: 3a)

Orang yang mengerti beda dengan orang yang tidak mengerti. Pengertian dari manusia atau dari Tuhan sangat berbeda. Orang yang tidak mengerti ada di tengah kerumunan orang yang lain, orang yang mengerti berada di atas kerumunan. Setiap orang punya persepsi. Tapi persepsi yang dari Tuhan membuat perbedaan.

Contoh:
Yusuf menjumpai bahwa saudara-saudaranya iri kepadanya. Dia hampir dibunuh, tapi diselamatkan Tuhan, lalu dijual sebagai budak. Yusuf menderita selama sekitar 13 tahun, baru diubahkan Tuhan jadi luar biasa, bebas dan menjadi perdana menteri Mesir.
Secara manusiawi seharusnya Yusuf dendam luar biasa. Tapi Yusuf sama sekali tidak berniat balas dendam, karena dia MENGERTI. Saat saudara-saudaranya tersungkur menyembah, Yusuf tersenyum melihat cara Tuhan membalikkan keadaan.

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. (Kej 50: 20)

Bahkan Yusuf memberi nama anak pertamanya Manasye, artinya “I dont remember” (aku tidak ingat). Yusuf berkata bahwa dia tidak lagi ingat semua kesakitan dan penderitaan di masa lalu.

Orang yang tidak bisa mengampuni orang lain yang bersalah padanya karena dia tidak mengerti.
Di manapun posisi kita saat ini, apapun yang kita alami: baik atau buruk, semua ada tujuan Tuhan.

Tuhan Yesus rela turun ke dunia, mengajar, hidup penuh pertentangan, menghadapi kematian yang mengerikan karena menanggung dosa manusia. Di tengah penderitaan di atas kayu salib, Yesus justru memintakan ampun bagi semua yang berbuat buruk padaNya. Yesus tidak mati dengan sakit hati, tapi dengan rela menyerahkan nyawaNya. Ini karena Yesus mengerti.

Jika kita hidup dengan iman, kita akan terima roh pengertian, dan itu membuat kita mengerti, dan hidup di atas rata-rata. Karena orang kebanyakan akan membenci dan balas dendam.

Stefanus dirajam hingga mati. Tapi dia justru memintakan ampun bagi yang merajam. Ini karena Stefanus mengerti.

Tuhan mau kita jadi orang yang mengerti banyak hal, diantaranya bahwa semua yang kelihatan berasal dari sesuatu yang tidak kelihatan.

Contoh:
Hagar dan Ismael pergi, lalu kehausan. Tuhan menghampiri dan membuka mata Hagar sehingga bisa melihat sumur. Sumur itu sudah ada sejak lama di situ, tapi Hagar lama tidak bisa melihatnya.

Elisa di Dotan, kota dikepung tentara Aram yang mencari Elisa. Hambanya panik, Elisa minta Tuhan buka mata hambanya, barulah bisa melihat begitu banyak malaikat yang bersama mereka.

Saat kita bergaul dengan orang-orang yang tidak beriman, maka akan terjadi pertentangan. Karena orang yang beriman bisa melihat yang tak terlihat oleh orang lain.

Kita harus hidup di atas rata-rata orang kebanyakan, dan yang membawa kita ke sana adalah iman.

Kesaksian
P Agung pelayanan ke sebuah pulau. Saat mengadakan KKR di suatu kota, ada kelompok-kelompok yang tidak suka dan menolak. Sebenarnya dasarnya takut jika JKI membuka gereja di sana, padahal sudah belasan tahun terbukti bahwa Tuhan tidak pernah perintahkan hal itu.
Malam pertama 3 ribu orang datang. Banyak yang disembuhkan oleh Tuhan dari kanker, stroke, bahkan sakit jiwa. Esok harinya yang hadir di seminar penuh.
Selama Tuhan menyertai, p Agung tidak perduli dengan berbagai perkataan penentang, karena p Agung mengerti. Ini membuat reaksinya berbeda. Setiap kali orang lemparkan batu ke p Agung, p Agung perkatakan supaya itu jadi emas.

Jika Tuhan sertai kita, dan kita punya pengertian, maka semua akan berakhir baik.

Pdt Kong Hee baru di sidang. Banyak orang heboh karena hal ini. Kita tidak perlu ribut, doakan saja, jika perlu doa-puasa bagi ps Kong dan gerejanya. Pikirkan kepentingan kerajaan Surga.

Ibr 11: 4 – Daftar orang-orang beriman, dimulai dengan Habel, bukan dengan Adam.
Di jaman itu orang belum makan daging binatang, karena daging binatang baru Tuhan ijinkan untuk dimakan setelah air bah. Habel mempersembahkan kambing-domba karena iman.

Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. (Rm 10: 17)

Iman muncul karena instruksi Kristus di hidup kita tentang yang harus kita buat. Maka istilah meng-iman-i sebenarnya tidak ada.

Saat belajar beriman, selalu akan ada kesalahan. Jangan takut salah! Jika salah, minta maaf.

Rekonstruksi timbulnya iman Habel:
Anak-anak Adam bertanya tentang asal-usul mereka. Lalu Adam bercerita tentang asal-usulnya, bagaimana dia jatuh ke dalam dosa. Lalu Tuhan menutupi ketelanjangan Adam dan Hawa dengan kulit hewan. Hal ini tiba-tiba jadi rhema dan memberi pengertian bagi Habel:
Untuk menutupi dosa atau sesuatu yang salah di dalam kita, harus ada korban domba kepada Tuhan.
Maka Habel memelihara kambing domba bukan untuk dimakan, tapi untuk dipilih yang terbaik, kemudian dipersembahkan bagi Tuhan. Obsesi Habel adalah memberi yang Tuhan mau. Sementara Kain mempersembahkan sebagian hasilnya

Dari sikap hatinya saja sudah terlihat bedanya: persembahan mana yang lebih baik.

Tidak ada salahnya dengan korban Kain: mempersembahkan hasil pekerjaannya. Tapi Habel berbeda karena memberi sesuai INSTRUKSI Tuhan.
Habel Tuhan tempatkan sebagai tokoh iman pertama karena banyak anak-anak Tuhan hidup seperti kain: setiap kali datang ke Tuhan seadanya. Seharusnya tidak boleh begitu. Dengar instruksi Tuhan dan lakukan, karena Tuhan punya selera.

Kesaksian
P Agung pergi ke suatu lokasi bersama tim Mahanaim. Sopirnya mengantuk. Supaya sopir tidak mengantuk, p Agung minta supaya rekan lain memutar khotbah bu Iin. Maka tidak ada yang mengantuk lagi. Salah satu quote bu Iin dalam khotbah itu:

Tuhan menerima kita apa adanya, tapi jangan datang menghadap ke Tuhan seadanya

Saat persembahan kita menyenangkan hati Tuhan, sesuai instruksiNya, maka kita terima perkenanan Tuhan, dan darahnya tetap berbicara walau dia sudah mati. Ini bicara tentang warisan (legacy).

Orang yang obsesinya menyukakan hati Tuhan, mungkin suatu hari akan mati, tapi warisan rohani dan jasmaninya akan langgeng dari generasi ke generasi.

Jika gereja Tuhan ada pekerjaan apapun, seringkali para pemimpin berfikir tentang dana-nya: cukup atau tidak. Padahal Tuhan Yesus tidak pernah mengeluh soal dana pada murid-muridNya.

Luk 8: 1-3
Jika kita ingin di atas rata-rata, harus ada orang-orang yang tahu bagiannya. Wanita-wanita di perikop di atas memiliki kebebasan ekonomi. Mereka tahu bagiannya, yaitu melayani rombongan Tuhan dengan kekayaan mereka.

Dalam setiap movement selalu ada orang-orang yang Tuhan perintahkan untuk melayani dengan kekayaannya.

Orang yang tahu bagiannya memiliki iman seperti iman Habel: bekerja tidak untuk dinikmati sendiri, tapi yang terbaik diletakkan bagi Tuhan.

Contoh:
Ester diangkat jadi ratu bukan sekedar supaya menang kontes kecantikan, tapi untuk menyelamatkan bangsanya dari kebinasaan.

Sebelumnya setiap ide JKI, respon-nya selalu negatif: permusuhan dan kecurigaan. Tapi saat ini angin baru berbalik, dukungan begitu besar. Hampir 1500 gereja yang berkomitmen mengirim orang-orang mudanya. Bahkan ada hamba Tuhan di Indonesia timur ingin membuat hal yang sama di daerahnya.

Budget acara jambore Desember sekitar 10M, dan akan dihabiskan hanya dalam 2 hari. Saat dihadapkan ke Tuhan: apakah ini bermanfaat? Roh Kudus hadir dan berkata: jika bisa lahir 100 lagi hamba Tuhan, yang punya hubungan pribadi dengan Tuhan, tidak perduli kata orang lain, hanya perduli kata Tuhan.
Ternyata setelah dihitung, ternyata biaya KKR sebenarnya murah: 100 ribu rupiah per orang.

Jika kita ingin sebuah legacy/ warisan yang besar: lakukan bagian kita!

Tokoh kedua yang disebut ibrani adalah Henokh, ini berbicara tentang pengangkatan. Perhatikan urutannya, maka kita akan tahu prioritas untuk jaman ini.

Penutup
Bisa berterima kasih pada Tuhan juga iman. Kita bisa mengeluh dan bersungut-sungut, tapi jika kita memilih berterima kasih, Tuhan disukakan. Berterima-kasihlah saat menghadapi segala sesuatu.

Kesaksian
Beberapa tahun lalu ada pertemuan memperingati lawatan Tuhan yang ke-30 tahun. Seorang nabi dari Singapura berkata supaya mereka ke awal tempat kegerakan, lalu mengambil sumur kegerakan di situ. Sehingga dapat api untuk anak-anak muda. Rekan-rekan reuni p Agung tidak melakukannya, hanya mengobrol dan bernostalgia. Lalu berdoa singkat.
Esoknya p Agung bertanya pada Roh Kudus: apakah masih ada kesempatan untuk mengambil dari sumur kegerakan. Roh Kudus berkata masih ada kesempatan. Maka p Agung ajak ratusan youth JKI, dibagi beberapa kelompok, masing-masing doa selama 10 menit, dan mengambil dari sumur kegerakan. Dari waktu itu, p Agung menunggu kapan gelombang kegerakan itu terjadi, dan Tuhan berkata bahwa gelombang lawatan itu akan datang pada acara desember.

Kesaksian
Di suatu gereja ada persembahan untuk misi. Seorang wanita mengorbankan uang yang seharusnya untuk makan siangnya. Beberapa tahun kemudian wanita ini koma. Saat koma dia mengalami berada di surga, dan tiba-tiba banyak orang-orang datang dan menemuinya sambil berterima-kasih. Ternyata mereka jiwa-jiwa yang diselamatkan karena sebuah misi. Tuhan beritahu jiwa-jiwa ini bahwa wanita itulah salah seorang yang berkorban untuk dana penginjilan, yang membuka kesempatan untuk jiwa-jiwa itu ada di surga. Tuhan beri kesempatan pada jiwa-jiwa itu untuk berterima kasih pada wanita ini.
Sesaat kemudian, wanita ini bangun dari koma-nya.

Korespondensi:
antoniusfw@facebook.com (FB); antonius_fw@yahoo.com (YM);
antoniusfw1@gmail.com (email, YM dan FB);
@Antonius_FW (tweeter);
pin BB 2A67038C
WhatsApp, Line, WeChat 085 727 868 064