Minggu, 21 Februari 2016
Sadrakh Mesakh Abednego
Petrus Agung

Dan 1: 1-21
Saat dibawa ke Babel, Daniel dan kawan-kawan usianya masih sangat muda, kemungkinan belasan (12-14). Ke-4 anak muda ini punya nama Yahudi yang berkaitan dengan nama Tuhan. Begitu sampai di Babel, nama mereka diganti berkaitan dengan nama dewa-dewa Babel. Bagi orang Yahudi ini penghinaan yang luar biasa dan mengerikan.
Daniel – Tuhan itu hakim; jadi Beltzasar – pangeran dari Bel, dewa tertinggi Babel
Hananya – yang mendapat favor Jehova; jadi Sadrakh – orang yang disinari matahari, berkaitan dengan dewa matahari.
Mizael – siapa yang bisa dibandingkan dengan Tuhan Elohim, Tuhan yang tidak ada bandingannya; jadi Mesakh – dewa bumi.
Azarya – yang ditolong oleh Jehova; jadi Abednego – hamba dari api yang menyala, berkaitan dengan dewa api.

Tapi sebutan yang populer bagi 3 orang adalah Sadrakh, Mesakh, Abednego; bukan nama Hananya, Mizael, Azarya.

Kadang di dalam kehidupan ada saat seperti kita direndahkan, tapi Tuhan tidak bertindak apa-apa. Apapun yang terjadi di hidup kita, di tempat kita paling terpuruk, di situ kita belajar mengambil yang terbaik dari Tuhan.

Latar belakang
Raja membuat patung dirinya, saat tanda diberi, semua harus menyembah. Saat ada tanda, yang tidak menyembah dan tetap berdiri adalah Sadrakh-Mesakh-Abednego. Mereka menantang dan tetap berkeras tidak menyembah patung. Dalam bahasa Caldea, patung yang didirikan Nebukadnezar bernama Lucifer.
Saat dimasukkan ke dalam perapian, Sadrakh-Mesakh-Abednego tidak bisa dibakar. Tuhan menggunakan nama yang diberikan pada mereka untuk balikkan keadaan:
Sadrakh adalah dewa matahari, dan matahari tidak bisa dibakar.
Mesakh adalah dewa bumi. Tidak mungkin membakar bumi. Selain itu di dalam bumi banyak lahar panas.
Abednego adalah dewa api, dan api tidak bisa dibakar api.

Tuhan ijinkan nama mereka tidak diubah, walau itu perendahan, karena dibalik perendahan ada maksud Tuhan.

Jika mengalami perendahan Tuhan, jangan sakit hati, Tuhan bisa ubah jadi sesuatu yang luar biasa.

Kesaksian
Seorang penerbit meminta p Agung menulis buku. Setelah naskah diserahkan, hingga 1 tahun tidak ada respon. Menurut penerbit buku itu tidak akan laku karena terlalu berat. Dia justru minta p Agung menulis humor Kristen. Hari itu adalah penolakan pada p Agung, tapi p Agung memutuskan tidak sakit hati, karena siapa tahu akan ada manfaatnya.

Beberapa tahun kemudian p Agung menulis buku berjudul “Hadirat Tuhan”, dicetak oleh p Timotius. Buku ini dibawa kemana-mana saat berkhotbah, dan laris. Ini cikal-bakal berdirinya MIK. Seandainya penerbit itu mencetak buku p Agung, mungkin memang tidak laku karena p Agung belum terkenal.

Beberapa tahun kemudian penerbit ini datang lagi, dan minta kesempatan mencetak buku p Agung, lalu di arahkan ke bu Vonny. Bu Vonny bertanya angka penjualan tertinggi per judul, dijawab 3 ribu. Bu Vonny berkata bahwa di MIK jika terjual hanya 3 ribu artinya tidak laku. Maka penerbit itu ditolak.

Kadang-kadang perendahan itu adalah modal untuk masa depan kita.

Hadasha Gloria
Sadrakh-Mesakh-Abednego menolak santapan raja, karena mereka harus tahu proses dari makanan yang akan dimakan, tahu proses pembunuhan binatang, proses memasaknya, apakah najis atau tidak. Karena tidak tahu, mereka memutuskan jadi vegetarian.

Proses sangat penting di hadapan Tuhan, menentukan apakah kita najis atau kudus

Proses menentukan apakah kita jadi diamon atau batu kasar, terbang lebih tinggi atau terpuruk. Semua tergantung respon. Kita lahir dengan berbagai kelemahan, maka Tuhan berikan proses yang mengikis kelemahan, dan membuat kita jadi lebih baik.

Saat dibawa ke bangsa asing, Sadrakh-Mesakh-Abednego datang sendirian tanpa saudara atau orang tua.

Proses berlaku saat kita sendirian, tidak bisa cceritakan pada siapapun tentang pergumulan kita. Di saat seperti itu kita akan tahu cara bergantung pada Tuhan. Saat ada orang tua atau teman, kita akan tergantung pada mereka.

Roh Kudus akan bawa kita melewati setiap proses secara step-by-step

Kesaksian
Saat kecil Shasha pernah sampai di titik tidak punya teman, tapi di situlah dia memiliki pengenalan dan perjumpaan pribadi dengan Tuhan.

Karena cintaNya, Tuhan mendidik kita. Tuhan ingin kita semakin naik, tapi itu butuh proses demi proses yang mengikis kelemahan-kelemahan kita. Proses dan didikan Tuhan tidak pernah mudah, seringkali sakit dan menyiksa. Tapi ujungnya adalah yang terbaik bagi kita, membuat kita semakin naik.

Ilustrasi:
Proses seperti trampolin. Saat ditekan semakin ke bawah, akan terlontar semakin ke atas.

Respon umum saat alami proses: marah dan kecewa pada Tuhan.

Tuhan tidak inginkan kita terus di bawah, tapi naik dan terbang tinggi.

Kesaksian
P Agung sekeluarga pergi ke Jepang, lalu akan ke Amerika. Di airport paspor Shasha ternyata tertinggal di Indonesia. Maka Shasha ditinggal sendirian di Jepang, lalu visa dan paspor Shasha dikirim ke Jepang. Shasha bisa pilih pulang ke Indonesia, atau ke Amerika sendirian. Shasha memutuskan sendirian ke Amerika, karena Roh Kudus mendampinginya.

Di pesawat Shasha menyembah, lalu mendapat sebuah lagu: Tidak ada didikan yang nyaman dan menyenangkan, tapi semua berasal dari Tuhan. Didikan itu yang membuat kita semakin dewasa, naik, terlatih menghadapi proses-proses di depan. Timbul dari hati Shasha: minta Tuhan buat hatinya mencintai proses dan didikan Tuhan.

Kesaksian
Selama 2 tahun Shasha mengatur acara youth. Semua dana lighting dll tidak dari kas gereja, tapi Shasha bergumul sendiri dengan Tuhan. Buktinya Tuhan selalu cukupi dana, dan Tuhan berikan lawatan demi lawatan.

Proses tidak bisa dilewati ber-ramai-ramai, tapi harus dilewati sendirian.

Covenant dan Kuasa mendapat Kekayaan (Pembukaan)

P Agung pulang dari amerika. Seorang teman memberi tahu bahwa 110 tahun yang lalu ada lawatan Tuhan di Azusa Street. Smith Wigglesworth bernubuat bahwa 110 tahun dari peringatan Azusa, Roh Kudus akan dicurahkan secara besar-besaran sekali lagi.

P Agung ajak beberapa rekan ke jalan Azusa untuk memeriksa di mana lokasinya.
Jalan Azusa adalah bagian dari little Tokyo, banyak orang Jepang yang tinggal di situ. Jalan Azusa sangat pendek. Saat melewati, p Agung dan rekan-rekan merasakan hadirat Tuhan. P Agung berdoa supaya api kegerakan itu bisa dibawa ke Indonesia, dan Februari ini ada 3 ribu jiwa dimenangkan.

Di ujung jalan ada plakat tentang kegerakan di Azusa. Plakat menceritakan banyak hal.
Diceritakan bahwa orang-orang yang dilawat sebagian adalah orang Jepang. Revival itu berakhir saat kelas pekerja yang ada bersaa mereka menyadari bahwa kegerakan hanya memberi Roh, tapi tidak memberi uang untuk pengembangan gereja.

Kegerakan ini berhenti karena orang yang mengalami tidak diberkati dan mengalami perubahan secara materi.

Hati p Agung terganggu: mengapa kegerakan tidak memberi dampak di bidang keuangan. Roh Kudus menjelaskan:
Hidup orang Israel ada 3 tahap, demikian juga hidup orang Kristen
1. Saat hidup sebagai budak di mesir: tidak perlu biaya (no cost). Kerja, rumah, pakaian, makan, semua diberi oleh tuannya.
2. Selama mengembara di padang gurun 40 tahun: murah (low cost). Tidak ada yang dibeli, hanya barter. Satu-satunya biaya: urunan untuk membangun kemah suci.
3. Saat masuk Kanaan: mahal (costly).
Mereka terlibat banyak peperangan, dan itu memakan biaya besar.
Saat mulai membangun rumah di tanah perjanjian, itu biayanya juga mahal.
Saat membuat infrastruktur pertanian: biaya mahal.

Itu sebabnya di kitab Ulangan Tuhan berikan kuasa untuk mengambil berkat Tuhan, tujuannya untuk meneguhkan perjanjian Israel dengan Tuhan.

2015 JKI dikunjungi banyak pendeta dari berbagai gereja dan berbagai daerah.
Bagi sebagian besar hamba Tuhan, apa yang Tuhan berikan pada p Agung seperti sebuah tanah perjanjian, jadi cita-cita dan impian mereka. Tapi p Agung mengerti untuk menggerakkan “tanah perjanjian” itu mahalnya luar biasa.

Di awal saat JKI Ik didirikan, p Agung tidak pernah bermimpi bahwa Tuhan beri seperti sekarang. Mengoperasikan seluruh HS sangat mahal, perlu anugerah luar biasa.

Jason Avanzini berkata pada p Agung:
Yesus berkata: di mana hartamu, di situ hatimu. Yesus sangat mengasihi kita, dan hati Tuhan tertuju pada kita senantiasa. Tapi di manakah harta Tuhan?

Kita harus mengerti arti perjanjian (covenant), sehingga tahu apa yang Tuhan mau. Kita harus punya kuasa mendapat kekayaan untuk hidup dalam covenant Tuhan.

*) DIDIKAN (Lagu ciptaan Hadhasa)

Tidak ada didikan yang nyaman
Didikan yang menyenangkan
Tapi semuanya itu berasal dari Tuhan.
Karena cintaNya Dia mendidik kita

Didikan itulah yang membuat
Kita dewasa dan terus naik
Didikannya yang sangat sempurna
Membuat kita terlatih

Buat hatiku mau terima didikanMu
Tubuh-jiwa-rohku mau didikanMu
Biar hati ini mencintai didikan
Meskipun sakit dan menyiksa
Tetapi tetap ku mencintaiMu

Korespondensi:
antoniusfw@facebook.com (FB); antonius_fw@yahoo.com (YM);
antoniusfw1@gmail.com (email, dan FB);
@Antonius_FW (tweeter);
pin BB 2A67038C
WhatsApp, Line, WeChat 085 727 868 064