Minggu, 24 April 2016
7 Kebaikan Anak Bungsu
Adi Sutanto

Luk 15: 11-24
Dosa si bungsu lebih terlihat jelas: ambil harta ayahnya, foya-foya, hidup dalam dosa. Saat jatuh miskin, si bungsu sadar dan pulang, kemudian dipestakan oleh bapaknya.

Sulung dan bungsu sama-sama punya dosa dan kelamahan. Tapi hati mereka berbeda. Si bungsu dalam hati terdalam percaya bapaknya baik. Maka ia berani pulang, rela jadi pekerja, konsekuen dengan perbuatannya. Sulung bekerja tiap hari dengan setia, tapi dasar hati dan mentalitasnya lain. Hati sulung berkata: bapaknya tidak adil dan pelit.

Cara pandang hati kita terhadap Tuhan menentukan segala-galanya.

Esau adalah anak sulung. Tapi sepanjang Alkitab, setiap kali nama Tuhan disebut sebagai: Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Tidak pernah disebut Allah Esau. Yakub dan Esau sama-sama berdosa, sama-sama lemah. Tapi dalam hati terdalam: Yakub sangat percaya janji Tuhan dan hak kesulungan. Demikian kuat, hingga dia berpura-pura jadi Esau supaya diberkati.

Orang yang percaya janji Tuhan adalah orang yang berbahagia, karena Tuhan kita adalah Tuhan yang berjanji.

Alkitab terdiri atas perjanjian lama dan perjanjian baru. Ada banyak perjanjian dalam Alkitab. Selain itu, dari waktu ke waktu Tuhan juga mau berjanji kepada masing-masing anak-anakNya secara pribadi.

Puji Dia, sembah Dia, dekati Dia, senangkan hatiNya, belajar berkenan pada Tuhan, maka Tuhan akan datang dengan membawa janjiNya bagi kita.

Kesaksian
P Adi minder, takut pacaran. Saat sekolah di Singapura, melalui mimpi p Adi berikan Ruth. Karena p Adi akan jadi pendeta, bisa kaya atau miskin, bisa di kota atau desa, dll. Tuhan perintahkan supaya p Adi menamai istrinya: Ruth. Bu Ruth mendampingi selama 39 tahun, setia dimanapun p Adi melayani. Lamaran pertama ditolak, tapi p Adi percaya pada janji Tuhan.

Jika dapat janji dari Tuhan: pegang janji itu, karena akan jadi kenyataan yang memberkati kita.

Daud dan Saul
Dosa Daud terlihat lebih jahat: menghamili istri orang, mengirim orang ke medan perang supaya mati.
Tapi hati Daud beda dengan Saul. Hati terdalam Daud menghargai firman Tuhan. Jika tidak ada firman Tuhan, Daud mencari seperti rusa, hingga mendapatkan. Saul menuruti perintah Tuhan, tapi tidak sepenuhnya: menyisakan raja yang harus ditumpas, membakar korban padahal bukan tugasnya.

Bahkan apa yang belum Tuhan nyatakan, tapi Daud sudah mengetahunya: membangun bait suci bagi Tuhan. Daud kenal hati Tuhan, dan hal ini menyentuh hati Tuhan. Akhirnya yang membangun rumah Tuhan bukan Daud, tapi keturunannya. Secara fisik adalah Salomo, tapi yang sejati adalah Yesus, yang disebut anak Daud.

P Adi pernah hadiri kebaktian Cathreen Coolman. Di tengah kebaktian, Cathreen bisa merasakan hadirat Tuhan. Saat hadirat itu datang, mereka yang sakit disembuhkan Tuhan.

Si bungsu berdosa, foya-foya, hidup dengan pelacur. Tapi dasar hatinya percaya bahwa bapaknya baik dan akan menerimanya kembali, sekalipun sebagai pekerja dan bukan anak. Dari jauh bapak sudah berlari menjemput bungsu. Ini mengindikasikan setiap hari bapa menunggu anaknya pulang.

Bapa tidak bertanya tentang dosa si bungsu, tentang bertanya berapa kerugian yang dialami. Si bungsu pulang saja bapa sudah senang. Sukacita Bapa itu menutupi semua dosa.

Saat datang pada Tuhan, jangan hitung-hitung lagi kelemahan dan kekurangan kita.
Hanya setan dan manusia yang menuduh, menghitung, dan mengingat-ingat kelemahan dan dosa.
Kita anak-anak Tuhan yang kudus – bukan karena tidak pernah berdosa, tapi dikuduskan oleh Tuhan.

Ilustrasi
Raja yang kaya membuat rumah ibadah, semua biaya ditanggungnya. Rumah dibangun megah, dan akan diresmikan. Malam sebelum peresmian raja bermimpi: malaikat datang memberikan peringatan: jangan menulis nama raja di prasasti, walau dia tanggung semua biaya. Yang harus ditulis adalah nama seorang janda miskin. Ternyata wanita ini memberi jerami pada sapi-sapi yang mengangkut bahan-bahan bangunan dari rumah ibadat.

Miliki hati yang mengasihi Tuhan! Di hadapan Tuhan itu melihat sekalipun pemberiannya kecil

Kesaksian
Anak seorang pendeta JKI akan kuliah, minta bantuan ke sinode. P Adi cek hati pendeta itu, dengan jalan men-cek hartanya: apakah gereja itu memberi perpuluhan pada sinode. Ternyata pendeta itu tidak beri perpuluhan. Jika tidak ada perpuluhan, apa yang bisa dilipatgandakan?

Tuhan menghargai persembahan yang kecil, sekalipun di dalam kekurangan.

7 kelebihan anak bungsu
1. Ingin mandiri- berdikari
Kita harus belajar mandiri, termasuk dalam mencari firman Tuhan. Tidak ada orang yang rohaninya kuat hanya dengan mendapat firman Tuhan pada hari minggu.
Contoh: bisa usaha sendiri, buka toko dan berjuang.

2. Rendah hati
Saat kehabisan uang, si bungsu mau kerja apa saja, mau makan apa saja, tidak gengsi, dan tidak malas.
Dosa awal setan adalah sombong. Karena itu Tuhan cinta pada orang yang rendah hati.
Berkat Tuhan seperti air: menuju tempat yang rendah. Tuhan mengasihi orang-orang yang merendahkan hatinya.

3. Sadar keadaannya
Si bungsu melarat di sini, sementara di rumah bapa kelimpahan. Pertobatan adalah kesadaran.

Saat Roh Kudus menyadarkan, tapi kita keraskan hati, maka akan habis.

4. Bangkit dan pergi kepada bapaknya
Bungsu mengambil langkah pertama.

5. Konsekuen
Rela bila dijadikan orang upahan bapanya. Sadar keadaannya

6. Terus berjalan pulang hingga ketemu Bapa, dan tidak berhenti
Kita harus berdoa hingga bertemu Tuhan. PUSH: pray until something happen.
Cara kita cari jiwa juga sama: hingga mendapatkan. Karena selalu ada orang-orang tertentu yang tidak bisa dijangkau selain oleh kita. Maka kita harus jalan hingga tuntas

7. Hati si bungsu percaya bahwa bapanya baik.
Karena percaya kebaikan bapaknya, bungsu berkata “harta kita”. Tapi si sulung selalu berkata “harta bapak”. Bungsu merasa ikut memiliki, sulung tidak merasa memiliki.

Cara berdoa seseorang menunjukkan seberapa besar kepercayaannya pada Tuhan.

Korespondensi:
antoniusfw@facebook.com (FB);
antonius_fw@yahoo.com, antoniusfw1@gmail.com (email, dan FB);
@Antonius_FW (tweeter); pin BB 2A67038C
WhatsApp, Line, 085 727 868 064