Minggu, 22 Mei 2016
Menghadapi Perubahan yang Kita Tidak Dambakan
Virgo Handoyo (Dosen Calvary babtist University)

Dalam hidup kadang kita menghadapi perubahan-perubahan yang tidak kita dambakan. Penderitaan adalah harga dari kasih yang harus kita bayar. Jika kita tidak meninggalkan orang yang kita kasihi, orang yang kita kasihi itu akan meninggalkan kita.

Seorang ahli mengadakan penelitian tentang hal-hal yang menyebankan stress. Poin tertinggi disebabkan oleh kehilangan pasangan karena kematian (100 poin). Penyebab-penyebab lain: masalah rumah tangga (50 poin), dipecat dari pekerjaan (47 poin), pensiun (45 poin), rumah disita (30 poin).

Meninggalnya p Agung menyebabkan kehilangan dan keguncangan bagi keluarga, jemaat, rekan-rekan, bahkan masyarakat luas yang pernah disentuh oleh pelayanannya.

Jemaat mula-mula juga mengalami stress berat. Yohanes memberi penghiburan pada jemaat:

Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: ” Berbahagialah orang- orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini. ” ” Sungguh, ” kata Roh, ” supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka. ” (Why 14: 13)

Orang yang mati di dalam Tuhan disebut berbahagia karena:
1. Orang yang mati di dalam Tuhan bertemu dengan Tuhan muka-dengan-muka

Kesaksian
P Handoyo bertobat Maret 1979. Dia mendoakan keluarganya supaya diselamatkan. P Handoyo mendapat rhema dari sebuah ayat yang tertulis di white-board ruang sekolah minggu:

Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” (Kis 16: 31)

Seminggu kemudian ada peristiwa mengejutkan. Ibu p Handoyo seperti rohnya keluar, dan bertemu Tuhan, lalu bercakap-cakap dari jam 8 pagi hingga jam 2 siang. Selama waktu itu ibu tidak sadar. Di tengah kondisi tidak sadar ibu ini sempat berkata kepada keluarganya untuk bertobat. Saat bertemu Tuhan, yang bisa diingat ibu ini adalah anaknya yang terkecil. Tuhan ijinkan ibu ini kembali, tapi harus bersedia memikul salib. Ujungnya seluruh keluarga p Handoyo diselamatkan.

Orang yang di dalam Tuhan tidak perlu takut kematian, karena akan bertemu Tuhan face-to-face

2. Orang yang mati dalam Tuhan beristirahat dari jerih lelahnya

P Agung pernah sakit jantung, dan sudah di ring. Tapi aktifitasnya luar biasa, harus bertanggung-jawab terhadap banyak pelayanan.

3. Perbuatan orang yang mati di dalam Tuhan menyertai mereka.
Pepatah: Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang.

Hingga hari ini, karya-karya p Agung masih dibicarakan di Semarang, Indonesia, bahkan di seluruh dunia.

Perbuatan kita akan selalu menyertai kita, baik itu hal yang baik atau jahat.

Suatu kali Alfred Nobel terkejut membaca orbituari laporan kematiannya. Redakturnya salah mencantumkan nama, karena yang seharusnya meninggal adalah kakaknya. Nobel melihat bagaimana kesan-kesan orang mengenai dirinya: penemu dinamit, peledak, penghancur. Nobel tidak suka dengan orbituari itu, dan ingin membuat citra dirinya berubah, bukan penghancur tapi pendamai.
Nobel kemudian menulis wasiat bahwa setiap tahun dia ingin memberi hadiah dan penghargaan pada orang-orang yang melakukan tindakan-tindakan mulia, yang membuat perbaikan dalam kehidupan. Bidangnya mula-mula 5 : fisika, kedokteran, perdamaian, literatur, dan kimia. Beberapa waktu kemudian ada 1 kategori tambahan: ekonomi.
Nobel berhasil merubah citra dirinya.

Selama masih hidup di dunia, Tuhan beri kita kesempatan mengubah tapak-tapak hidup kita.

Tindakan yang harus dilakukan oleh mereka yang kehilangan seseorang karena kematian: kenali rasa kehilangan kita. Ada perubahan status dari orang-orang yang ditinggalkan. Dari istri menjadi janda, dari anak yang punya orang tua lengkap jadi hanya punya satu orang tua.

Seorang ahli meneliti bagaimana manusia meresponi perubahan yang mendadak. Kesimpulannya ada 5 tahapan (stage):
1. penyangkalan (denial)
2. kemarahan/ konflik
Rasa sakit karena perubahan yang mendadak membuat seseorang memproyeksikan kemarahannya pada orang lain disekitarnya. Misalnya: keluarga saling menyalahkan.

3. tawar-menawar (bargaining)
4. depresi
Menurut riset puncak depresi ada di bulan ke-6. Secara statistik kedukaan akan pulih dalam 1 tahun. Tapi jika tidak sanggup menangani kesedihan akan berlangsung lebih lama.

5. penerimaan (acceptance)
Menerima realitas yang ada, move on. Jika sampai pada titik ini, fokus berubah menjadi restorasi/ pemulihan. Pemulihan yang dilakukan: sistem keluarga, identitas, penyesuaian dengan status yang baru, menata ulang organisasi dan pelayanan.

Proses pemulihan ini perlu waktu, kesabaran, toleransi satu-sama lain, kesehatian, unity, tema work yang saling men-support.

Jemaat yang sehat mampu menghadapi perubahan mendadak dengan dinamis dan bijaksana.

Betul bahwa kita mengalami stress, terguncang (shock), menderita (suffering), tapi melalui semua itu kita akan naik dan melayang terbang seperti rajawali bersama Tuhan.

Teruskam misi dan visi p Agung: jangkau dan menangkan semua jiwa-jiwayang terhilang berapapun harganya (win the lost at any cost)

Sikap Hati – Victor Purnomo
Jika keadaan yang kita ingin ubah tidak bisa diubah, Tuhan bisa ubah hati kita. Perubahan hati lebih kuat dari perubahan di sekitar kita.

Saat Absalom berontak dan Daud harus lari, ada 3 orang yang terlibat: Simei, Abisai, Daud. Respon ketiganya berbeda, dan kita harus memilih salah satunya.

Simei: mengutuki Daud, mengucapkan kata-kata yang jahat dan negatif, menumpahkan semua perasaannya. Saat Daud kembali ke istana, Simei ketakutan dan menyesal. Daud mengampuninya.

Ilustrasi:
Kemarahan itu seperti menghamburkan bantal berisi kapuk. Saat menyesal, tidak mungkin mengumpulkan semua isinya kembali.

Saat marah dan kecewa- jangan diungkapkan semua, simpan, supaya kelak kita tidak menyesalinya

Abisai: marah dan ingin memenggal Simei. Abisai adalah tipe orang yang suka membunuh orang yang menyakitinya. Mungkin secara fisik, atau secara mental. Daud minta Abisai supaya tenang.

Daud: menerima semua yang dialami sebagai kehendak Tuhan. Daud keluar dari istana tanpa kasut, melambangkan dia melepaskan haknya. Yang Daud pikirkan adalah Tabut Tuhan, berharapkan bisa melihat lagi Tabut Tuhan, jika Tuhan kembalikan Daud ke istana.

Ketenangan Daud membuat Tuhan mengembalikannya ke istana dan tahtanya.

Kitalah yang menentukan sikap hati kita. Minta Tuhan ubah hati kita sehingga sanggup menghadapi semua situasi.

Penelitian Universitas Havard: Keberhasilan seseorang ditentukan 85% oleh sikap hati, dan 15% oleh kemampuan, kehebatan, dan kepandaian.

Jaga hati kita, karena itu modal terbesar kita.

Pengumuman
Seminar: New wave of Economics System, Rabu 25 Mei 18:30

Minggu 29 Mei 2016 – peneguhan dan pentahbisan bu Tina sebagai gembala jemaat. 07:00

Korespondensi:
antoniusfw@facebook.com (FB);
antonius_fw@yahoo.com, antoniusfw1@gmail.com (email, dan FB);
@Antonius_FW (tweeter); pin BB 2A67038C
WhatsApp, Line, 085 727 868 064