Minggu, 30 Oktober 2016
Crossing Over
Evelyn Nadeak

Pembukaan
2 hal yang harus dibawa saat ibadah: Alkitab dan catatan khotbah.
Alkitab harus dibawa sehingga kita tahu bahwa apa yang dijelaskan pembicara benar-benar ada di Alkitab, bukan sekedar opini pribadi. Saat kita belajar Firman Tuhan, kita jadi pandai.

My people are destroyed for lack of knowledge. (Hos 4: 6, NKJV)

Hawa kurang pengetahuan akan Firman, bukan sama sekali tidak tahu. Kekurangan pengetahuan Hawa membuat manusia binasa.

Saat mendengarkan Firman, kita bisa lupa. Jika ada catatan, kita bisa mengingat apa yang disampaikan.

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa MURID- Ku (Mat 28: 19a)

Kita dipanggil untuk memuridkan bangsa-bangsa. Karakteristik murid adalah pembelajar, dan salah satu ciri seorang murid adalah: mencatat.

Setiap murid pasti mengalami ujian demi ujian. Karena sejak lahir baru, kita masuk dalam universitas kehidupan. Dosen dan dekan-nya Allah Roh Kudus. Kita tidak bisa menyuap Roh Kudus, tidak ada katrolan/ karbitan supaya naik kelas.

Roh Kudus tidak akan meluluskan kita jika kita tidak benar-benar lulus.

Ujian tidak pernah diberitahukan, maka kita harus siap setiap saat.

Crossing Over
bagaimana membuat transisi-transisi dalam kehidupan

Transisi adalah perubahan dari musim ke musim di hidup kita. Ada transisi yang bagus, ada yang mengkhawatirkan.

Contoh:
Ada transisi dari hidup lajang menjadi suami-istri
Ada transisi dari hanya berdua – jadi mempunyai anak.
Anak yang sebelumnya seharian di rumah, anak mulai sekolah.

Mrk 4: 35-41

Ay 35 – hari sudah petang, artinya transisi untuk dimulainya hari yang baru. Dalam kalender Yahudi pergantian hari adalah saat matahari terbenam.
JKI sedang ada pada masa transisi menuju era yang baru.
Bertolak ke seberang – Tuhan selalu bawa kita menuju takdir Ilahi (divine destiny) kita. Takdir Ilahi masing-masing jemaat terkait dengan takdir ilahi gereja JKI scara korporat. Saat masing-masing jemaat mencapai destiny secara pribadi, itu juga berarti membawa kemuliaan secara korporat bagi JKI IK. Takdir adalah perjalanan menuju klimaks/ garis finish. Artinya ada pengejaran yang progresif.

Mzm 23
Dikatakan “berjalan dalam lembah kelam”. Hidup bisa gelap, tidak jelas mau kemana. Walau dalam kondisi seperti itu, Daud bisa bergerak maju bersama Tuhan.

Jangan mencari solusi permanen untuk masalah yang temporer.
Contoh: bunuh diri, cerai, mengundurkan diri, dst

Problem yang datang ke hidup kita ada masa berlakunya. Ada yang sehari, sebulan, setahun, dst. Tapi tidak ada yang selamanya, dan tujuannya untuk kebaikan kita. Yesus membawa kita secara progresif, tidak pernah membiarkan kita di satu tempat terus-menerus. Tuhan bawa kita dari glory to glory. Yesus mengajak murid-murid melakukan transisi, yaitu bergerak dari tempat semula ke tempat yang Tuhan tunjukkan, yaitu destiny kita.

Kelahiran kita tidak kebetulan: pada tahun tertentu, dari orang tua tertentu, di negara-propinsi-kota tertentu, dari etnis tertentu, dst. Kita bukan percobaan/ eksperimen Ilahi, tapi Tuhan punya rencana Ilahi bagi masing-masing kita.

Mzm 139: 13-16
Kita melayani Tuhan yang ter-rencana. Tuhan merancang hidup kita sebelum kita dilahirkan, jauh sebelum orang tua kita bertemu.

Takdir Ilahi:

Sebab Aku ini mengetahui rancangan- rancangan apa yang ada pada- Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yes 29: 11)

Problem di desain untuk mengeluarkan yang terbaik dari dalam diri kita.

Contoh:
> Yusuf bin Yakub. Destinynya menjadi pembesar di Mesir, untuk memelihara bangsa Israel.

Setan suka membuat visi kita jadi pendek, padahal seringkali itu terkait dengan rencana Tuhan yang jauh lebih besar.

Langkah-langkah transisi supaya berhasil menghadapinya
1. Mengikuti pemimpin yang benar
Pemimpin yang benar adalah penebus kita: Yesus Kristus. Dia sudah membeli kita dengan darahNya sendiri.

Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba- domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba- dombanya masing- masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. (Yoh 10: 3)

Masing-masing bertanya pada Tuhan: Yesus bilang apa kepada kita? Siapa yang membawa kita ke Holy Stadium ? Jika Yesus, maka tanyakan padaNya: apakah harus tinggal atau pergi.

Cara mendengar suara Tuhan: Bersekutu dengan Alkitab setiap hari. Setiap tahun harus menamatkan Alkitab. Untuk mengetahui cara fikir Tuhan, semua ada di Alkitab. Jangan hanya mengandalkan khotbah dari mimbar. Pengenalan pribadi karena pergaulan setiap hari.

2. Meninggalkan orang banyak

Untuk ikut Yesus, kita tidak bisa ikut suara terbanyak seperti yang diajarkan dunia (demokrasi)

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Rm 12: 2)

Contoh:
> Pernikahan sesama jenis di-legal-kan di negara Amerika, karena disetujui oleh suara terbanyak.

Kita dipanggil untuk hidup melawan arus jika mau melakukan transisi. Akan ada waktunya keputusan-keputusan kita dipertanyakan oleh kalangan mayoritas di luar. Saat itu apakah kita masih bisa berkata bahwa “Christ is enough to me” ?

Saat Tuhan berkata supaya kita berjalan atau berhenti, jangan perdulikan suara lain. Karena menuruti suara Tuhan itu yang membuat kita punya kemajuan/ progress, sekalipun dalam lembah kelam.

3. Masuk ke dalam perahu
Perahu adalah gereja lokal yang dibangun Tuhan untuk menolong jemaat mencapai takdir Ilahi masing-masing.

Gereja memiliki sistem pemerintahan, ada pemimpin-pemimpin yang ditetapkan.

Dan Ialah yang memberikan baik rasul- rasul maupun nabi- nabi, baik pemberita- pemberita Injil maupun gembala- gembala dan pengajar- pengajar, untuk memperlengkapi orang- orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak- anak, yang diombang- ambingkan oleh rupa- rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. (Ef 4: 11-15)

Dinamika di ayat 12-15 hanya bisa terjadi di dalam gereja lokal, saat seseorang tertanam dan berakar di Bait Allah. Dinamika ini tidak bisa terjadi dalam sebuah event atau KKR.
Kita ditakdirkan jadi Kristus yang dewasa, tidak mudah diombang-ambing berbagai angin pengajaran.
Jika seseorang bertumbuh dan berakar, maka dia akan mampu membedakan (descern).

Mimbar gereja gunanya untuk menyampaikan suara Tuhan, bukan untuk menghibur/ meng-entertain jemaat.

Jika kita mau bergerak di musim transisi, kita harus punya ketetapan hati, bahwa komitmen untuk tertanam di gereja lokal adalah supaya bertumbuh. Untuk bertumbuh tidak bisa tergantung 1 orang, tapi masing-masing jemaat harus belajar Firman Tuhan.

Analogi saat makan siang:
Anak usia kurang dari 5 tahun: semua disiapkan ibunya, harus disuapi.
Anak usia 12 tahun datang sendiri ke meja makan
Anak usia 18 tahun sudah bisa membantu ibunya mempersiapkan dan memasak makan siang

Di dalam gereja lokal, jemaat akan di-proteksi, mendapat arahan, mendapat nasehat dan dorongan, bertumbuh dalam akuntabilitas, karunia masing-masing jemaat ditemukan-dikembangkan-digunakan untuk mengembangkan kerajaan Tuhan.

4. Jaga mulut
Saat digoncang badai, murid-murid panik. Goncangan badai akan meluapkan isi hati kita sesungguhnya. Saat cuaca cerah, semua baik-baik saja, semua orang bisa bilang akan setia.

Yang menajiskan kita adalah yang keluar dari mulut kita

Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. (Mat 15: 18)

Setiap perkataan kita harus dipertanggung-jawabkan di depan Tuhan (Rm 14: 12). Saat mengalami badai, perhatikan perkataan kita.

5. Belajar menghadapi badai
Yesus tidak dibangunkan oleh badai, tapi oleh seruan panik muridNya. Yesus bisa tenang di tengah badai. Yesus ingin kualitas seperti itu ada dalam diri kita: di tengah badai jiwa kita tetap bisa tenang dan beristirahat.

Ilustrasi: rajawali
Saat badai burung yang lain berteduh dan bersembunyi. Tapi rajawali justru terbang menunggangi badai.

Jangan lari dari badai, karena kita adalah rajawali Tuhan yang di desain untuk menunggangi badai, dan naik ke tempat yang lebih tinggi.

Korespondensi:
antoniusfw@facebook.com (FB);
antonius_fw@yahoo.com, antoniusfw1@gmail.com (email, dan FB);
@Antonius_FW (tweeter); pin BB 5CE70545
WhatsApp, Line, 085 727 868 064