Minggu, 01 Januari 2017
Menabur di Tanah yang Baik dan Berbuah
Tina Agung Purnomo

Mrk 4: 2-8, 14-20

Injil Markus lebih banyak menceritakan aktifitas Yesus dibanding injil Matius dan Lukas. Pengajaran Yesus hanya di pasal 4: Yesus mengajar 3 perumpamaan; dan di pasal 12: Yesus mengajar 1 perumpamaan.

Penabur adalah Tuhan, kita adalah tanahnya. Tuhan bisa menikmati panen raya dan buah yang lebat melalui hidup kita jika kita menjadi tanah yang baik.

Tanah yang baik adalah:
1. Tanah yang gembur, sudah dibajak, tidak keras
Tanah yang keras tidak bisa ditanami apapun. Tanah harus digemburkan sehingga biji bisa ditanam dengan baik. Selanjutnya tanah diaduk, sehingga gizi yang di bawah naik.

Seringkali hidup kita diaduk-aduk: kadang sudah tenang, lalu turun ke bawah, sudah nyaman dipindah ke tempat yang tidak nyaman. Tapi ini cara Tuhan supaya kita jadi tanah yang baik.

Yang tidak baik adalah jiwa dan daging kita, maka Tuhan mengolahnya sehingga jadi gembur dan siap ditanami Firman Tuhan.

Syukuri apapun yang kita alami, karena itu proses Tuhan untuk mempersiapkan diri kita. Jangan alergi dengan masalah dan persoalan, itu ada untuk membangkitkan iman kita. Saat kita seperti tanah yang gembur, benih apapun yang Tuhan tanam akan tumbuh.

Warisan terbesar p Agung kepada bu Tina: banyaknya masalah yang tertinggal. Semua ini membuat iman bu Tina bangkit, hatinya mengandalkan Tuhan, dan cara berfikir jadi Alkitabiah.

Saat tanah kita gembur, ditanami apapun akan tumbuh. Tanah yang keras adalah sikap skeptik, tidak gampang percaya, sekalipun mujizat terjadi.

Kesaksian di KKR Purwokerto
Seorang ibu minta didoakan untuk dapat hadiah pertama. Saat diundi, ternyata ibu inilah yang dapat hadiah motor. Ibu ini sedang membutuhkan kendaraan karena ekonominya sedang sulit. Tuhan itu memberi tepat pada yang membutuhkan. Ujungnya ibu ini mau dituntun untuk terima Tuhan Yesus.

Seringkali manusia ragu-ragu tentang kesaksian orang lain, maka dia tidak akan menerima. Orang yang ragu berkata bahwa mujizat itu khusus untuk 1 atau 2 orang tertentu saja.

Tuhan menjawab iman kita, bukan kebutuhan kita.

2. Tidak berbatu-batu
Orang yang terlalu sibuk, sehingga tidak ada waktu bagi Tuhan. Contoh: sibuk menjawab medsos, tidak perhatian, sehingga tidak tahu bahwa Tuhan datang membawa berkat.

Jangan terlalu sibuk dengan hidup kita!

Defisit rohani: banyak hamba Tuhan memberikan kepada orang lain, tapi sedikit menerima dari Tuhan, karena hubungan pribadi dengan Tuhan kurang.

Kita boleh melayani dengan segenap hati dan tenaga, tapi jangan lupa bahwa hubungan dengan Tuhan itu yang pertama dan utama. Ada waktu Tuhan bisa berbicara kepada kita, saat Roh Kudus dicurahkan itulah yang membuat hidup kita menjadi tanah yang baik, yang siap ditaburi benih Firman.

Pengurapan bertujuan membuat kita lebih dekat dengan Tuhan, lebih kuat menangani segala sesuatu. Berkat materi karena pengurapan hanyalah bonus

Kita seringkali jatuh bukan karena batu besar, tapi kerikil kecil. Contoh kerikil yang menghalangi kita jadi tanah yang baik: kepahitan, kejengkelan, tidak bisa mengampuni.

Mari mulai tahun yang baru dengan bebas dan hati yang baru, membuang semua kerikil di hidup kita.

3. Tidak ada tanaman liar/ semak belukar
Membersihkan tanaman liar tidak bisa hanya di permukaan, tapi harus dicabut hingga ke akar-akarnya.

Saat hidup kita penuh dengan tanaman liar, maka kekuatiran dan tipu daya dunia bisa masuk ke hidup kita. Jangan ingin kaya! Jika kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, maka berkat materi adalah bonus. Jangan kejar bonusnya, tapi kejar Tuhan.

Tuhan ingin hati dan hidup kita jadi tanah yang baik, bisa berkomunikasi dengan Tuhan dimanapun.

Cara menghilangkan semak belukar adalah dengan hidup dalam kasih. Karena di dalam kasih tidak ada ketakutan dan kekuatiran.

Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. (1Yoh 4: 18)

Kesaksian
Ibu dari salah seorang pastoral meninggal. Saat bu Tina datang, langsung di seka dan di make up. Ibu yang meninggal ini kena TBC. Seorang yang membantu mengingatkan bu Tina tentang bahaya ketularan. Bu Tina sempat takut, tapi Roh Kudus mengingatkan bahwa dalam kasih tidak ada ketakutan. Maka bu Tina memperkatakan dalam hati: saya melayani dengan kasih dan tulus, maka tidak akan tertular virus apapun. Setelah diperkatakan tidak ada lagi ketakutan.

Dalam kasih tidak ada ketakutan, kekuatiran, tidak akan dimanipulasi oleh harta-kekuasaan-keinginan daging. Kasih itu memberi dan mau berkorban.

Doa minta supaya kita menerima kasih Allah, yang melenyapkan semua ketakutan dan kekuatiran.

Tanah yang baik itu membuat tanaman tumbuh subur, dan menghasilkan buah, hingga 30x, 60x, dan 100x lipat. Penabur awal adalah Tuhan. Saat tanah kita sudah baik dan subur, lalu berbuah, selanjutnya yang jadi penaburnya adalah kita. Dalam buah ada bijinya, ini jangan dimakan, tapi ditanam kembali. Jika semua kita makan, maka tidak menghasilkan apapun.

Saat kita terima anugerah Tuhan, jangan dimakan semua. Cari tanah yang subur, tanamkan benih kita di tanah yang subur. Taburan kita menentukan tuaian kita.

Tanamkan benih kita pada sesuatu yang kekal: roh manusia. Cari orang yang bisa diselamatkan, taburkan benih pada orang itu.
Contoh: Anak sekolah yang membutuhkan bea siswa: kita taburi, sehingga dia punya harapan untuk masa depannya.

Jangan hidup untuk diri sendiri, iman kita bisa bertumbuh jika ikut melayani.

Kesaksian
Seorang jemaat suaminya stroke, bahkan ber-halusinasi bertemu orang-orang yang sudah meninggal. Teman-teman MK nya mendoakan, dan si suami ini sembuh, bahkan ikut melayani.

Rekening JKI Injil Kerajaan:
BCA 182-53-0000-9
BCA – Berkat bagi bangsa – 182-27-0000-9

Korespondensi:
antoniusfw@facebook.com (FB);
antoniusfw1@gmail.com (email);
@Antonius_FW (tweeter); pin BB 5CE70545
WhatsApp, Line, 0878 3377 8822

Advertisements